Teknologi Menguasai Dunia
#World 2099 Challenge
Teknologi Menguasai Dunia
Oleh : Nazwa Azzura
Zaman
telah berubah, teknologi semakin canggih dan manusia hanya bergantung
dengan alat-alat teknologi canggihnya. Apapun terbuat dari teknologi,
mulai dari sepeda berkecepatan kilat, mobil terbang, dan alat-alat
canggih lainnya.
Namun disisi lain,
bumi semakin panas, hampir tidak ada tumbuhan lagi yang berada di bumi.
Semua telah musnah yang dahulunya hijau sejuk banyak binatang, namun
kini semua sudah musnah. Hanya binatang yang bertahan dengan kondisi
panas seperti padang pasir di Saudi Arabia dahulu.
Dengan
bantuan teknologi, mereka bisa menghidupi diri mereka. Apapun yang
dibutuhkan, hanya dengan menggerakkan tangan sesuai password, maka
kebutuhan itu akan terpenuhi. Seperti halnya rumahku. Seisi rumah
termasuk barang-barang sudah terpassword oleh gerakkan tangan
masing-masing keluargaku saja.
“Nadine.. kau sudah bangun?”
Terdengar suara mamah memanggil.
“Iya
mah, aku udah bangun kok.” Teriakku yang sedang memilah-milah baju
dengan gerakan tanganku sebagai password di depan almari.
“Hm,
nampaknya aku pakai baju ini saja untuk hari yang panas ini, ups bukan
hari ini saja entah kapan matahari akan mau berdamai dengan bumi”
pikirku.
Bersiap-siap untuk
berangkat kuliah, aku memasukkan beberapa file bacaan untuk bahan
belajar. Tanpa mengunakan buku, hanya dengan mesin seperti tablet
berlayar kaca dan memasukkan file ke dalamnya. Tak ada kertas untuk
dijadikan sebagai buku. Istilah buku pada zaman nenek moyangku yang
sekarang sudah musnah. Kini hanya ada mesin teknologi semacamnya.
“Hei mam, apakah kali ini kita berangkat bersama?” tanyaku.
“Yah,
kali ini kita berangkat bersama. Tapi tidak dengan papah, dia sudah
berangkat dari tadi sebelum kau bangun.” Mamah menjawab sambil
menyiapkan sarapan pagi.
“Waw secepat itukah. Apakah proyek itu sangat urgent?”
“Yah
proyek papah kali ini untuk menyelamatkan manusia. Mengolah air laut
untuk kehidupan sehari-hari manusia. Karena sekarang benar-benar
kekeringan, jadi terpaksa harus mengolah air laut untuk kehidupan
manusia termasuk kita sayang.”
Yah begitulah papah sang Arsitek relawan. Dan aku bangga memilikinya guys .
“Ini luar biasa mam, ku harap proyeknya benar-benar berhasil.”
“Semoga saja, ku harap begitu. Ayo kita berangkat”
Kami
bergegas ke arah garasi mengambil mobil. Mobil ini menggunakan bahan
bakar cahaya matahari. Karena panasnya matahari, akhirnya dimanfaatkan
manusia sedemikian rupa. Mobil ini terbang sekitar 1 meter dari bumi
ketika dikendarai.
Semua kendaraan
yang membutuhkan bahan bakar minyak, kini menggunakan cahaya matahari
sebagai bahan bakarnya. Jalan bawah tanah pun sudah resmi menjadi akses
jalan yang memang mengurangi kemacetan. Jarak 20 km bisa ditempuh dengan
waktu 10 menit. Tanpa macet dan memang teknologi yang kian gencar.
“Nanti mamah jemput lagi yah Din”
“Siap mah, asal jangan telat aja jemputnya hehe.”
Mamah
mengedipkan mata, seketika itu mobilnya pun melaju kencang seperti
kedipan matanya. Mamah memang wanita karier yang bekerja di perusahaan
teknologi ternama, namun tidak kurang untuk memberi perhatian dan
mengurusi keluarga.
Karena dosen
tidak hadir, aku pun memilih ke perpustakaan kampus. Perpustakaan yang
terdiri dari banyaknya PC dan ribuan file bacaan yang tersusun rapi
dalam satu flashdisk yang sudah terdaftar ke dalam pencarian bacaan.
Di
depan PC tempus pandang, aku memilah-milah bacaan apa yang harus aku
pilih. Klik, aku pilih bacaan tentang sejarah kondisi bumi. Kemudian
keluar hardfile kecil yang nantinya dimasukkan ke PC model tablet yang
tembus pandang juga.
Mulai serius
dengan bacaan sejarah indahnya bumi yang terdahulu. Bumi yang begitu
hijau dulunya, jauh sangat berbeda dengan saat ini yang begiu panasnya
bahkan menyebabkan kekeringan yang luar biasa. Tak sadar aku menitikkan
air mata melihat perubahan yang begitu jauh dengan keadaan bumi dahulu.
“Hai Din, baca apaan sih sampe nangis gitu?” Clara yang tiba-tiba datang dan langsung duduk di sampingku.
“Ra,
sini deh lihat. Ternyata bumi saat dulu itu seindah ini. Gue gak
nyangka masih ada surga dunia pada saat itu. Sedangkan sekarang,
semuanya musnah Ra. Kenapa ya Ra kira-kira Bumi jadi kaya gini?”
“Emm, gue jadi ikut penasaran Din apa yang terjadi kenapa bumi jadi kaya gini dan iya memang jauh berbeda sama bumi yang dulu.”
“Loe mau gak Ra bantuin gue nyari info asal-usul bumi jadi kaya gini?” tanyaku dengan muka serius.
“Hayu aja sih, gue mah kan selalu ada dipihak loe.”
Dan kami pun tertawa bersama sampai lupa dengan aturan di perpustakaan.
“Kalian berdua, silahkan keluar!” perintah petugas perpustakaan dengan tegasnya.
Yang
begitu sangat memalukan yaitu pintu yang terbuka seakan menyambut kami
untuk segera keluar. Dan tayangan cctv yang langsung terpajang di setiap
papan tayangan cctv. Memang begitulah aturan di kampus ini.
Kami beralih tempat duduk dekat kantin. Dengan muka saling serius, kami melanjutkan bahasan yang di perpustakaan tadi.
“Sekarang kita lihat apa aja yang beda antara sekarang sama yang dulu.” Aku memulai dengan mengamati gambar-gambar dibacaan.
“Emm,
eh lihat ini kampus kita deh kayanya. Dan ini lihat juga, ini kantin
yang itu kan Din?” Clara menunjukkan kantin kampus yang ada di gambar
dengan kantin yang ada di dekat tempat kami duduk sekarang.
“Wah
loe, gak nyangka gue Ra. Tumben loe teliti banget haha. Nah, ini udah
mempermudah kita banget nih buat nemuin perbedaannya.”
“Pakaian? Nah pakaian Din itu jadul banget yang digambar haha.”
“Yee model pakaian mah jelas beda lah Ra, tiap tahun juga udah beda. Apalagi ini udah puluhan tahun say.”
“PC?
Nah teknologi Din. Kayanya memang berubah banget. Liat deh, mobil yang
ada di gambar. Handphone, PC yang mereka gunain beda banget sama kita.”
“Teknologi?
Emm ya bener juga Ra, sepertinya teknologi memang alasan utamanya.
Teknologi di zaman kita udah keren banget dan yah memang jadul sih
benda-benda teknologi mereka.”
“Lantas kenapa makin canggihnya teknologi, malah makin rusak ya bumi ini?” Clara yang mulai berpikir
“Okay
yang kedua kita lihat perbedaan apalagi yang ada.” Aku memandangi
sekitar dan ku temukan yang persis di tempat duduk ini. Di gambar ada
sebuah pohon besar dekat tempat duduk ini, namun sekarang tidak ada.
“Tumbuhan
Ra, iyah tumbuhan dulu masih lebat dan masih banyak hutan yang lebat
juga. Dan sekarang sudah jarang kita temui tumbuhan tumbuh dengan
lebatnya.”
“Gimana mau tumbuh Din,
hutan-hutan juga udah dijadiin gedung-gedung besar seperti yang di
seberang itu. Paling ada juga hutan kota, taman kota.”
Aku mencoba berpikir keras.
“Nah,
berarti memang masalah utamanya adalah teknologi. Gedung-gedung besar
itu juga kan memiliki teknologi yang luar biasa kan? Dan untuk
pengembangan teknologi itu, mereka membangun gedung-gedung baru. Namun
karena lahan sudah habis, mereka menggunakan hutan untuk membangunnya.”
“Ouh
gitu, akhirnya hutan jadi gundul semua dan tentu jadi panas ya Din,
karena tumbuh-tumbuhan tidak membantu penyerapan cahaya matahari dan
tidak membantu kita untuk menyerap CO2 dari kita dan mengeluarkan O2
untuk kita serap. Benar gitu Din?”
“Yah benar, Emm ternyata ini alasannya.” Jawabku dengan nada serius dan mengangguk-anggukan kepala dengan pelan.
Kami
hanya bisa tercengang dengan ini semua. Ada rasa penyesalan sebagai
cucu yang sudah melakukan perubahan buruk untuk bumi ini. Kami pun
menangis sambil memeluk saling memberi ketenangan.
Tiba-tiba wanita separuh baya datang memberhentikan tangisan, dan berniat untuk menjemputku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar