Secret Dibalik Santri
Besok adalah
hari yang sangat aku tunggu dari sekian lamanya karena terbendung rindu. Rindu
kepada adik laki-laki yang sedang menempuh studynya
di salah satu pesantren Tasikmalaya. Ia bernama Hafizh dan masih berusia 12
tahun.
Hari ini, papah
menjemputku di rumah tante untuk berangkat terlebih dahulu ke rumah nenek di
Garut. Kali ini papah menjemputku selepas pulang dari pekerjaannya.
“Ra, ayo
sekarang berangkat. Keburu hujan kalau sore.”
“Iya yuk pah,
ini Zahra juga udah siap kok.”
“Ya udah
pamit dulu sana gih sama tante.”
Aku menemui
tante untuk pamit berangkat duluan walaupun sebenarnya tante nanti juga akan ke
Garut. Dan ikut bersama kami menjemput anaknya yaitu Khidir dan Shaffa di
pesantren juga.
“Tan, Zahra
sama papah berangkat duluan yah.”
“Iya udah
hati-hati yah Ra. Nanti tante sama paman nyusul, kayanya malem deh berangkatnya.”
“Oh gitu yah
tan, ya udah deh Zahra duluan tan. Udah ditunggu papah tuh di depan. Assalamualaikum.”
“Waalaikumussalam.”
Kali ini aku
dan Papah berangkat menggunakan sepeda motor yang biasa aku gunakan, agar
sekalian dibawa pulang setelah menjemput adikku.
“Pah kayanya
gak mungkin deh, kita pulang sampe rumah pake motor ini. ini berdua aja udah
sempit gimana bertiga sama Hafizh? Terus belum lagi barang bawaannya Hafizh.
Gak mungkin banget pah.”
“Ya udah
nanti papah pikirin lagi.”
Perjalanan
dari Bandung menuju Garut, rumah nenek membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam.
Tetapi kalau ngebut bisa lah 1,5 jam nyampe. Hehe
Sampai di
rumah nenek, aku mencoba berkali-kali menekan bel namun nampaknya rumah ini
sepi. Saat hendak pergi, tiba-tiba ada yang membuka pintu. Yang terlihat
bukanlah nenek, namun Teh Dini yang membuka pintunya.
“Assalamualaikum.” aku mengucapkan salam
dan mencium tangan Teh Dini.
“Waalaikumussalam. Ouh Zahra kirain
siapa. Sama siapa ke sini?”
“Itu sama
papah. Masih markirin motor kayanya.”
“Ya udah
sini masuk. Tuh nenek masih tidur kayanya. Teteh juga tadi ada di atas.”
“Pantes dari
tadi gak ada yang buka.” Gumamku.
“Ya udah
teteh ke atas dulu yah Ra.”
“Okay teh.”
Kemudian
papah datang dan meletakkan tas-tas yang tadi dibawa. Melihat sekeliling rumah,
papah sepertinya sedang mencari seseorang.
“Ra, nenek
mana?”
“Itu pah,
kayanya lagi tidur. Tuh pintu kamarnya aja masih nutup.”
“Terus tadi yang
buka pintu siapa?”
“Teh Dini
pah. Oh iya pah, sambil nunggu nenek bangun, service motor dulu yuk pah. Besok kan motornya mau dibawa jarak
jauh?”
“Oh iya, hampir
aja papah lupa. Ya udah yuk keburu tutup.”
Kami pun
keluar sekalian mencari makan karena memang sudah lumayan lapar dan lelah.
Papah mencari dealer Honda yang
terdekat.
Karena
lumayan antri, akhirnya kami memutuskan untuk mencari makanan sambil menunggu
motor selesai. Mencari-cari kuliner makanan, kami tergoda dengan bakso Solo
yang membuat kami yakin pasti baksonya enak karena pemiliknya adalah orang Solo
asli. Bakso Solo memang sudah terkenal enaknya bagi keluarga kami.
“Wah lumayan
nih pah, Zahra juga udah lama gak makan bakso.”
“Iyah udah
kalau perlu nanti nambah 2 mangkok Ra.”
“Wah siap
pah. Hehe.”
Kami
menyantap dengan sangat lahapnya. Mungkin karena efek lapar dan juga memang
lumayan lelah. Saat sedang menyantap dan heningnya kami tanpa obrolan tiba-tiba
pemilik bakso Solo ini mengobrol dengan suaminya menggunakan Bahasa Jawa. Aku
hanya tersenyum karena akupun tahu apa yang dibicarakan oleh pemiliknya, karena
aku sendiri juga orang Jawa.
Setelah
selesai, aku dan papah langsung ke tempat service
untuk mengambil sepeda motor. Nampaknya motorku sudah selesai dan klakson
motorku juga kembali bersuara.
Kami kembali
ke rumah nenek untuk beristirahat karena besok shubuh akan berangkat ke
Tasikmalaya.
Pukul 03.30
pagi aku terbangun dan ternyata sudah ada tante yang tidur di sampingku. Aku
langsung mandi dan segera bersiap shalat shubuh. Disusul juga tante, paman dan
juga ayah. Teh Dini juga ikut dengan kami, karena suaminya yang akan
mengendarai mobilnya.
Saat semua
sudah siap dan sudah shalat shubuh, kami mulai berangkat. Hari masih pagi dan
langitpun masih tampak gelap. Udara pagi juga masih terasa dingin dan sejuk.
Perjalanan
pagi membuatku mengantuk dan tiba-tiba aku membayangkan seseorang yang sudah
lama aku kagumi. Yah inginku melihatnya yang sudah lama tak berjumpa. Dia
adalah seorang guru yang mengajar di pesantren Hafizh.
Teringat
saat pertama kali mengunjungi Hafizh, papah bercakap-cakap dengannya. Seorang
guru tersebut bernama Yusuf. Aku yang sangat pemalu, hanya bisa terdiam
mendengarkan obrolan mereka.
Saat aku
cerita kepada Hafizh mengenai Yusuf, Hafizh bilang kepadaku bahwa Yusuf sudah
menikah. Aku tersentak kaget dan sempat tidak percaya. Terlihat karena Yusuf
masih terbilang muda untuk menikah.
Beberapa
waktu kemudian saat itu, ternyata Hafizh salah paham. Yang kuceritakan kepadanya,
dia kira guru yang lain yang memang
sudah menikah.
Itu membuatku
tersenyum dan tertawa kecil mengingat hal itu.
“Semoga hari
ini aku bisa bertemu dengannya.” Gumamku.
Sesampai di
pesantren, terlihat dari kejauhan sudah dimulai acara perpisahan siswa-siswi SD
termasuk adikku Hafizh yang baru lulus SD tahun ini.
Aku mencari-cari
Hafizh, Khidir, Afif dan juga Shaffa yang bersama-sama akan pentas di panggung
perpisahan.
“Eh itu
Hafizh, Hafizh.. Hafizh sini.” Panggilku dengan suara keras karena tak kuasa
aku menahan rindu kepada adikku ini.
Hafizh
langsung mencium tanganku dan mencium tangan papah dilanjut juga semua
saudaraku yang hadir di sini. Kemudian aku mencari-cari seseorang yang berbadan
tinggi besar itu. Karena sedari tadi tidak terlihat batang hidungnya.
Fokus dengan
penampilan adik-adikku membuatku lupa akan Yusuf. Penampilan-penampilan yang
sangat menyentuh hati dan juga menghibur semua tamu yang hadir pada hari ini.
“Aku yakin,
semua orang tua di sini sangat bangga memiliki anak-anak penghafal Al Qur’an dan
As Sunnah. Mereka yang berprestasi dengan membawa harum agamanya.” gumamku
Tak sadar
air mataku menetes melihat siswa-siswi yang umurnya jauh dariku sudah hafal
beberapa surah Al Qur’an. Sedangkan aku hanya memiliki hafalan surah-surah
pendek saja. Jujur, ada rasa malu dihati ini. Namun semua ini membuatku
semangat untuk mencoba menambahkan hafalan.
Kemudian
Shaffa datang dan duduk di sampingku.
“Shaffa
tampilnya masih lama gak?” tanyaku.
“Lumayan
teh.”
“Ya udah
anterin teteh yuk ke toilet.”
Shaffa
akhirnya mau mengantarku ke toilet. Dengan rasa malu, aku melewati
santri-santri akhwat yang memiliki akhlak-akhlak mulia itu. Ada rasa minder
jika aku bersanding denga mereka. Hanya senyuman yang bisa kuberi untuk sapaan
kepada mereka.
“Shaffa
tunggu, jangan cepet-cepet jalannya.”
Aku berlari
kecil mengejar Shaffa, namun tiba-tiba rokku tersangkut paku yang ada di meja
kecil. Saat membalikkan badan terlihat seseorang berpakaian baju koko putih
menggunakan sarung dan peci hitam. Dengan rasa panik dan jantung yang berdegup
kencang, aku segera membenarkan rokku yang tersangkut. Rasa panikku bertambah
karena meja ini dekat dengan Yusuf yang sedang menyusun karya seni santri.
Kemudian aku
segera berlari dan menutup rasa malu karena kejadian tadi.
“Kenapa Ra?”
tante bertanya seperti itu membuatku bingung harus menjawab apa.
Aku langsung
duduk dan berpura-pura tidak ada kejadian apapun.
“Hem, gak
apa-apa kok tan, hehe.”
Penampilan
selanjutnya adalah karya seni yang dibuat dari botol berisi air. Karya itu
adalah karya yang dibuat oleh Yusuf. Karya itu akan ditampilkan oleh
santri-santri akhwat.
“Lho itu
kan, duuh pasti dia muncul nih dipanggung.”
Pikiranku
ternyata benar, Yusuf muncul di depan panggung untuk membantu santri-santri
menampilkan karya.
“Ra, itu tuh
kepala sekolah Hafizh sama Khidir.”
“Ouh itu.”
Aku pura-pura tenang.
Penampilan
dari para santri satu persatu berakhir dan acara perpisahan hari ini pun
selesai. Kini saatnya untuk pengambilan buku rapor hasil belajar para santri.
Papah dan
tante mengambil rapor, sedangkan Aku menunggu di kursi depan panggung. Karena
acara sudah selesai, kursi-kursi sudah mulai diberesi. Seseorang yang aku
kagumi itu ikut membereskan kursi-kursi. Mungkin karena aku masih duduk, ia
tidak membereskan kursi-kursi yang berada disekitarku.
Terlihat ia
sedang mengejar-ngejar santri ikhwan yang masih SD. Aku teringat dengan yang
dikatakan oleh Khidir dan Hafizh bahwa Yusuf adalah guru yang galak dan mantan
preman. Namun, hal itu dilakukan saat menghukum santri yang melanggar aturan.
Kata mereka sih aslinya itu baik dan saat mengajar dengan serius, kadang juga mereka
disuguhi candaan yang tidak membuat santri merasa tegang.
Semua orang
tua dari adik-adikku sudah mengambil buku rapor. Kamipun langsung pulang dan
kali ini mobil terasa ramai dengan kedatangan santri-santri yang membanggakan
ini.
Topik
pembicaraan kami adalah penampilan-penampilan saat acara perpisahan dan
terutama penampilan-penampilan Hafizh, Khidir, Afif dan Shaffa. Semua merasa
bangga dengan mereka, termasuk aku yang memiliki adik seperti Hafizh.
“Itu tadi
yang namanya Yusuf kok mirip Khidir yah?” ucap Teh Dini.
Semua seisi
mobil tertawa dan Yusuf menjadi topik pembicaraan kami kali ini.
“Iyah emang
mirip banget teh” aku tertawa kecil.
“Iyah tau, kok
bisa mirip banget yah.” Teh Dini menyambung kembali candaan ini.
“Kalau Zahra
jadi sama Pak Yusuf, tante bakal bahagia.”
Ucapan tante
membuatku tercengang dan aku hanya bisa diam karena takut semua tahu kalau aku
sudah lama mengaguminya.
“iyah, Pak
Yusuf itu aqidahnya bagus lho.” Khidir menambahkan.
Aku masih
tidak percaya dengan semua ucapan tante tadi. Itu benar-benar membuatku sangat
tersentak kaget. Seakan-akan tante itu tahu apa yang sedang aku rasakan dan aku
harapkan.
“Ya Allah,
pertanda apakah ini? Apakah mereka tahu? Apakah engkau yang memberi tahu kepada
mereka dan sedang menyiapkan semuanya untukku?” gumamku dalam hati.
Semua
tertawa bahagia dan meledekku dengan Yusuf. Sedangkan aku masih memikirkan dan
mencerna kalimat tante itu.
“Kalau Zahra
jadi sama Pak Yusuf. Jadi? Itu kalimat seakan-akan sudah ada rencana untuk
benar-benar aku akan bersama dengan Yusuf. Ahh entahlah. Ini membuatku
bingung.”
Aku merasa
sangat bahagia hari ini saat tante berbicara seperti itu. Menurutku, jika tante
saja menyarankanku dengannya berarti memang ada kesempatan aku bisa menikah
dengannya nanti. Bisa jadi itu semua adalah sinyal dari Allah untukku.
Angan-angan
dan sedikitnya harapan untuk bisa membangun impian bersamanya kini bertambah
semangatku untuk segera mewujudkannya. Ini semua tidak ada yang kebetulan,
namun ini semua atas izin Allah Azza Wa Jalla yang memiliki rencana paling
indah dari yang terindah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar