Rabu, 29 Juni 2016

Secret Dibalik Santri

Secret Dibalik Santri

Besok adalah hari yang sangat aku tunggu dari sekian lamanya karena terbendung rindu. Rindu kepada adik laki-laki yang sedang menempuh ­studynya di salah satu pesantren Tasikmalaya. Ia bernama Hafizh dan masih berusia 12 tahun.
Hari ini, papah menjemputku di rumah tante untuk berangkat terlebih dahulu ke rumah nenek di Garut. Kali ini papah menjemputku selepas pulang dari pekerjaannya.
“Ra, ayo sekarang berangkat. Keburu hujan kalau sore.”
“Iya yuk pah, ini Zahra juga udah siap kok.”
“Ya udah pamit dulu sana gih sama tante.”
Aku menemui tante untuk pamit berangkat duluan walaupun sebenarnya tante nanti juga akan ke Garut. Dan ikut bersama kami menjemput anaknya yaitu Khidir dan Shaffa di pesantren juga.
“Tan, Zahra sama papah berangkat duluan yah.”
“Iya udah hati-hati yah Ra. Nanti tante sama paman nyusul, kayanya malem deh berangkatnya.”
“Oh gitu yah tan, ya udah deh Zahra duluan tan. Udah ditunggu papah tuh di depan. Assalamualaikum.”
Waalaikumussalam.”
Kali ini aku dan Papah berangkat menggunakan sepeda motor yang biasa aku gunakan, agar sekalian dibawa pulang setelah menjemput adikku.
“Pah kayanya gak mungkin deh, kita pulang sampe rumah pake motor ini. ini berdua aja udah sempit gimana bertiga sama Hafizh? Terus belum lagi barang bawaannya Hafizh. Gak mungkin banget pah.”
“Ya udah nanti papah pikirin lagi.”
Perjalanan dari Bandung menuju Garut, rumah nenek membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam. Tetapi kalau ngebut bisa lah 1,5 jam nyampe. Hehe
Sampai di rumah nenek, aku mencoba berkali-kali menekan bel namun nampaknya rumah ini sepi. Saat hendak pergi, tiba-tiba ada yang membuka pintu. Yang terlihat bukanlah nenek, namun Teh Dini yang membuka pintunya.
Assalamualaikum.” aku mengucapkan salam dan mencium tangan Teh Dini.
Waalaikumussalam. Ouh Zahra kirain siapa. Sama siapa ke sini?”
“Itu sama papah. Masih markirin motor kayanya.”
“Ya udah sini masuk. Tuh nenek masih tidur kayanya. Teteh juga tadi ada di atas.”
“Pantes dari tadi gak ada yang buka.” Gumamku.
“Ya udah teteh ke atas dulu yah Ra.”
“Okay teh.”
Kemudian papah datang dan meletakkan tas-tas yang tadi dibawa. Melihat sekeliling rumah, papah sepertinya sedang mencari seseorang.
“Ra, nenek mana?”
“Itu pah, kayanya lagi tidur. Tuh pintu kamarnya aja masih nutup.”
“Terus tadi yang buka pintu siapa?”
“Teh Dini pah. Oh iya pah, sambil nunggu nenek bangun, service motor dulu yuk pah. Besok kan motornya mau dibawa jarak jauh?”
“Oh iya, hampir aja papah lupa. Ya udah yuk keburu tutup.”
Kami pun keluar sekalian mencari makan karena memang sudah lumayan lapar dan lelah. Papah mencari dealer Honda yang terdekat.
Karena lumayan antri, akhirnya kami memutuskan untuk mencari makanan sambil menunggu motor selesai. Mencari-cari kuliner makanan, kami tergoda dengan bakso Solo yang membuat kami yakin pasti baksonya enak karena pemiliknya adalah orang Solo asli. Bakso Solo memang sudah terkenal enaknya bagi keluarga kami.
“Wah lumayan nih pah, Zahra juga udah lama gak makan bakso.”
“Iyah udah kalau perlu nanti nambah 2 mangkok Ra.”
“Wah siap pah. Hehe.”
Kami menyantap dengan sangat lahapnya. Mungkin karena efek lapar dan juga memang lumayan lelah. Saat sedang menyantap dan heningnya kami tanpa obrolan tiba-tiba pemilik bakso Solo ini mengobrol dengan suaminya menggunakan Bahasa Jawa. Aku hanya tersenyum karena akupun tahu apa yang dibicarakan oleh pemiliknya, karena aku sendiri juga orang Jawa.
Setelah selesai, aku dan papah langsung ke tempat service untuk mengambil sepeda motor. Nampaknya motorku sudah selesai dan klakson motorku juga kembali bersuara.
Kami kembali ke rumah nenek untuk beristirahat karena besok shubuh akan berangkat ke Tasikmalaya.
Pukul 03.30 pagi aku terbangun dan ternyata sudah ada tante yang tidur di sampingku. Aku langsung mandi dan segera bersiap shalat shubuh. Disusul juga tante, paman dan juga ayah. Teh Dini juga ikut dengan kami, karena suaminya yang akan mengendarai mobilnya.
Saat semua sudah siap dan sudah shalat shubuh, kami mulai berangkat. Hari masih pagi dan langitpun masih tampak gelap. Udara pagi juga masih terasa dingin dan sejuk.
Perjalanan pagi membuatku mengantuk dan tiba-tiba aku membayangkan seseorang yang sudah lama aku kagumi. Yah inginku melihatnya yang sudah lama tak berjumpa. Dia adalah seorang guru yang mengajar di pesantren Hafizh.
Teringat saat pertama kali mengunjungi Hafizh, papah bercakap-cakap dengannya. Seorang guru tersebut bernama Yusuf. Aku yang sangat pemalu, hanya bisa terdiam mendengarkan obrolan mereka.
Saat aku cerita kepada Hafizh mengenai Yusuf, Hafizh bilang kepadaku bahwa Yusuf sudah menikah. Aku tersentak kaget dan sempat tidak percaya. Terlihat karena Yusuf masih terbilang muda untuk menikah.
Beberapa waktu kemudian saat itu, ternyata Hafizh salah paham. Yang kuceritakan kepadanya, dia  kira guru yang lain yang memang sudah menikah.
Itu membuatku tersenyum dan tertawa kecil mengingat hal itu.
“Semoga hari ini aku bisa bertemu dengannya.” Gumamku.
Sesampai di pesantren, terlihat dari kejauhan sudah dimulai acara perpisahan siswa-siswi SD termasuk adikku Hafizh yang baru lulus SD tahun ini.
Aku mencari-cari Hafizh, Khidir, Afif dan juga Shaffa yang bersama-sama akan pentas di panggung perpisahan.
“Eh itu Hafizh, Hafizh.. Hafizh sini.” Panggilku dengan suara keras karena tak kuasa aku menahan rindu kepada adikku ini.
Hafizh langsung mencium tanganku dan mencium tangan papah dilanjut juga semua saudaraku yang hadir di sini. Kemudian aku mencari-cari seseorang yang berbadan tinggi besar itu. Karena sedari tadi tidak terlihat batang hidungnya.
Fokus dengan penampilan adik-adikku membuatku lupa akan Yusuf. Penampilan-penampilan yang sangat menyentuh hati dan juga menghibur semua tamu yang hadir pada hari ini.
“Aku yakin, semua orang tua di sini sangat bangga memiliki anak-anak penghafal Al Qur’an dan As Sunnah. Mereka yang berprestasi dengan membawa harum agamanya.” gumamku
Tak sadar air mataku menetes melihat siswa-siswi yang umurnya jauh dariku sudah hafal beberapa surah Al Qur’an. Sedangkan aku hanya memiliki hafalan surah-surah pendek saja. Jujur, ada rasa malu dihati ini. Namun semua ini membuatku semangat untuk mencoba menambahkan hafalan.
Kemudian Shaffa datang dan duduk di sampingku.
“Shaffa tampilnya masih lama gak?” tanyaku.
“Lumayan teh.”
“Ya udah anterin teteh yuk ke toilet.”
Shaffa akhirnya mau mengantarku ke toilet. Dengan rasa malu, aku melewati santri-santri akhwat yang memiliki akhlak-akhlak mulia itu. Ada rasa minder jika aku bersanding denga mereka. Hanya senyuman yang bisa kuberi untuk sapaan kepada mereka.
“Shaffa tunggu, jangan cepet-cepet jalannya.”
Aku berlari kecil mengejar Shaffa, namun tiba-tiba rokku tersangkut paku yang ada di meja kecil. Saat membalikkan badan terlihat seseorang berpakaian baju koko putih menggunakan sarung dan peci hitam. Dengan rasa panik dan jantung yang berdegup kencang, aku segera membenarkan rokku yang tersangkut. Rasa panikku bertambah karena meja ini dekat dengan Yusuf yang sedang menyusun karya seni santri.
Kemudian aku segera berlari dan menutup rasa malu karena kejadian tadi.
“Kenapa Ra?” tante bertanya seperti itu membuatku bingung harus menjawab apa.
Aku langsung duduk dan berpura-pura tidak ada kejadian apapun.
“Hem, gak apa-apa kok tan, hehe.”
Penampilan selanjutnya adalah karya seni yang dibuat dari botol berisi air. Karya itu adalah karya yang dibuat oleh Yusuf. Karya itu akan ditampilkan oleh santri-santri akhwat.
“Lho itu kan, duuh pasti dia muncul nih dipanggung.”
Pikiranku ternyata benar, Yusuf muncul di depan panggung untuk membantu santri-santri menampilkan karya.
“Ra, itu tuh kepala sekolah Hafizh sama Khidir.”
“Ouh itu.” Aku pura-pura tenang.
Penampilan dari para santri satu persatu berakhir dan acara perpisahan hari ini pun selesai. Kini saatnya untuk pengambilan buku rapor hasil belajar para santri.
Papah dan tante mengambil rapor, sedangkan Aku menunggu di kursi depan panggung. Karena acara sudah selesai, kursi-kursi sudah mulai diberesi. Seseorang yang aku kagumi itu ikut membereskan kursi-kursi. Mungkin karena aku masih duduk, ia tidak membereskan kursi-kursi yang berada disekitarku.
Terlihat ia sedang mengejar-ngejar santri ikhwan yang masih SD. Aku teringat dengan yang dikatakan oleh Khidir dan Hafizh bahwa Yusuf adalah guru yang galak dan mantan preman. Namun, hal itu dilakukan saat menghukum santri yang melanggar aturan. Kata mereka sih aslinya itu baik dan saat mengajar dengan serius, kadang juga mereka disuguhi candaan yang tidak membuat santri merasa tegang.
Semua orang tua dari adik-adikku sudah mengambil buku rapor. Kamipun langsung pulang dan kali ini mobil terasa ramai dengan kedatangan santri-santri yang membanggakan ini.
Topik pembicaraan kami adalah penampilan-penampilan saat acara perpisahan dan terutama penampilan-penampilan Hafizh, Khidir, Afif dan Shaffa. Semua merasa bangga dengan mereka, termasuk aku yang memiliki adik seperti Hafizh.
“Itu tadi yang namanya Yusuf kok mirip Khidir yah?” ucap Teh Dini.
Semua seisi mobil tertawa dan Yusuf menjadi topik pembicaraan kami kali ini.
“Iyah emang mirip banget teh” aku tertawa kecil.
“Iyah tau, kok bisa mirip banget yah.” Teh Dini menyambung kembali candaan ini.
“Kalau Zahra jadi sama Pak Yusuf, tante bakal bahagia.”
Ucapan tante membuatku tercengang dan aku hanya bisa diam karena takut semua tahu kalau aku sudah lama mengaguminya.
“iyah, Pak Yusuf itu aqidahnya bagus lho.” Khidir menambahkan.
Aku masih tidak percaya dengan semua ucapan tante tadi. Itu benar-benar membuatku sangat tersentak kaget. Seakan-akan tante itu tahu apa yang sedang aku rasakan dan aku harapkan.
“Ya Allah, pertanda apakah ini? Apakah mereka tahu? Apakah engkau yang memberi tahu kepada mereka dan sedang menyiapkan semuanya untukku?” gumamku dalam hati.
Semua tertawa bahagia dan meledekku dengan Yusuf. Sedangkan aku masih memikirkan dan mencerna kalimat tante itu.
“Kalau Zahra jadi sama Pak Yusuf. Jadi? Itu kalimat seakan-akan sudah ada rencana untuk benar-benar aku akan bersama dengan Yusuf. Ahh entahlah. Ini membuatku bingung.”
Aku merasa sangat bahagia hari ini saat tante berbicara seperti itu. Menurutku, jika tante saja menyarankanku dengannya berarti memang ada kesempatan aku bisa menikah dengannya nanti. Bisa jadi itu semua adalah sinyal dari Allah untukku.
Angan-angan dan sedikitnya harapan untuk bisa membangun impian bersamanya kini bertambah semangatku untuk segera mewujudkannya. Ini semua tidak ada yang kebetulan, namun ini semua atas izin Allah Azza Wa Jalla yang memiliki rencana paling indah dari yang terindah.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar