Selasa, 14 Juni 2016

Rencananya atau Rencana-Nya?



#Wow Plot Challenge
Rencananya atau Rencana-Nya?
Oleh : Nazwa Azzura
Mentari pagi perlahan muncul untuk menerangi indahnya bumi. Kicauan burung-burung ikut menyambut cerahnya pagi hari ini. Telah ku dapati banyak sekali orang-orang berdatangan ke rumah. Menggunakan pakaian resmi bercorak batik dan berpenampilan anggun. Dari sisi jendela kamar, aku melihat beberapa orang-orang penting juga berdatangan.
Tok..tok..tokk..
“Sya.. bagaimana sudah siap?” tanya seorang separuh baya yang sudah berdandan cantik dan bernampilan sangat anggun.
“Belum mah, bentar lagi. Tinggal nyari bross bunga-bunga yang minggu lalu beli bareng mamah.” Sambil nyari-nyari ke dalam almari.
“Kamu ya.. kenapa gak dari semalem disiapin sih Sya. Ya udah dipercepat yah. Tamu udah banyak dan sebentar lagi calon suami kamu datang.”
“iyah mah iyah.”
Mamah pergi dan menutup pintu kamar dengan segera.
“Hhuh, benarkah aku akan menikah dengan orang tidak aku kenal sebelumnya? Melihatnya pun tak pernah. Ya Allah ku serahkan semuanya kepada-Mu.” Gumamku sambil terus mencari-cari bross dalam almari yang mungkin terselip.
Brruukk...
Terlihat ada sesuatu yang jatuh dari dalam almari. Dengan segera aku mengambilnya.
“Book Diary?” gumamku.
Buku kecil bersampul cokelat kusam dan nampaknya memang sudah sangat lama. Buku yang berisikan tulisan-tulisan seperti ceker ayam pada halaman pertama, seperti kata beberapa orang yang mengucapkannya pada tulisan yang jelek susah dibaca.
Ku buka lembar pertama bertuliskan tanggal 12 Juli 2006 di pojok kanan atas. Aku mulai membaca dengan serius.
 “Hey kamu.” Seseorang menunjuk ke arahku dengan muka kesombongan sebagai senior.
“A..a..aku?” Dengan gugup aku menjawab.
“Iyah kamu. Cewek culun. Kemari!”
Perlahan aku mendekatinya dengan rasa takut. Takut jika disuruh melakukan hal yang dia minta. Mentang-mentang dia senior bisa seenaknya memerintah juniornya saat ospek. Ini sangat tidak adil bagiku.
“Kenapa kamu? Apa yang sedang kamu pikirkan?”
“Aku memikirkan ketidakadilan yang ada di sekolah ini.”
“Hhaha keadilan? Coba kamu jelajahi sekolah-sekolah seluruh pelosok Indonesia kalau bisa, pasti kamu menemukan saat-saat ospek seperti ini!”
Aku hanya terdiam dengan tubuh gemetaran karena bentakan suara kerasnya. Dengan keheningan sejenak, seseorang yang sepertinya teman senior itu menghampiri.
“Gio. Eh ada yang mau aku bicarain. Sini deh bentar.”
Mereka terlihat membicarakan hal penting suatu konsep dengan cara berbisik-bisik dan lumayan jauh dari jarakku berdiri.
“Ouh. Senior galak itu namanya Gio.” Gumamku.
Terlihat mereka sudah selesai bercakap. Aku segera mengambil posisi setegak mungkin agar tidak mendapatkan hukuman yang lebih berat lagi.
“Hey kamu. Sekarang kamu cari 10 macam bunga yang berbeda-beda dan hanya dilingkungan sekolah ini. waktunya sampai 1 jam sebelum adzan dhuhur. Paham?!”
“I..i...iya kak.”
Sekarang waktu menunjukkan pukul 10.45. Aku langsung buru-buru mencari 10 macam bunga yang diperintahnya. Kini keberuntungan memihakku. Dengan cepat aku berhasil mendapatkan 10 macam bunga yang berbeda.
Aku langsung berlari menemui Kak Gio. Namun dia menghilang entah kemana. Tapi ternyata ada teman Kak Gio yang tadi bercakap dengannya. Dengan segera aku menghampirinya.
“Assalamualaikum Kak, ini saya sudah mendapatkan 10 bunga yang berbeda.” Dengan nafas yang terengah-engah aku berbicara kepadanya.
“Oh iyah bagus. Sekarang kasih ke kaka yang memakai baju kokoh putih dengan sarung abu-abu di dalam musholah.”
“Hhuh siap kak!”
Tiba di musholah, mataku dengan giat mencari-cari seseorang yang dimaksud kak Dani itu. Selintas aku melihat seseorang dengan ciri-ciri itu sedang memasukkan uang ke dalam kotak amal. Kemudian mengarah ke tempat imam, mengambil mikrophone. Aku pandangi dengan serius apa yang akan dilakukannya dan apakah dia orang yang dimaksud Kak Dani?
Allahu Akbar.. Allahu Akbar...
“Adzan?” gumamku dengan pelan.
Aku tercengang, terpesona ahh.. entahlah apa sebutan saat apa yang sedang ku rasakan ini. mendengar lantunan takbirnya membuatku lupa akan tugasku dan langsung mengambil air wudhu untuk menyegerakan shalat.
Saat shalat selesai, aku baru teringat akan tugas bunga ini. Mata ini mencari-cari seseorang itu dan terlihat mau keluar dari musholah. Dengan buru-buru aku mengejarnya.
“Kak.. kak.. tunggu.!” Aku memberhentikannya setengah berteriak.
Kemudian orang itu balik badan dan...
“Hhah K..Kak Gio? Lhoh jadi yang dari tadi aku perhatiin sampai adzan tadi itu dia? Oh My God..”
“Iya. Ada apa? Emm, tunggu dulu.” Dia berpikir seperti sedang mengingat-ngingat.
“Oh iyah.. kamu anak yang tadi saya panggil culun tadi ya? Maaf yah atas omongan saya yang menyinggung. Gimana udah dapet semua bungannya?”
Aneh memang, ucapannya sekarang berubah jadi lembut dan sopan. Tidak seperti saat dilapangan tadi saat dia memakai seragam. Suaranya yang keras membentak-bentak. Wajah tampan dan senyumannya kini membuatku makin terpesona dengannya. Ohh Kak Gio..
Cerita ini membuatku tertawa terbahak-bahak dan tidak menyangka. Kemudian aku membuka lembar buku diary selanjutnya.
Kini aku sudah duduk dibangku SMA dan satu sekolah dengan Kak Gio. Masa ospek selalu mengawali di area pendidikan formal. Aku kembali menuruti perintah senior yang kini makin semena-mena perintahnya. Lebih menantang fisik juga mental pada siswa-siswi baru.
“Salah satu diantara kalian harus ada yang mengambil sepatu itu yang berada di atas pohon. Kemudian memasangkannya kepada kedua kaki saya! Jika tidak ada yang berani, kalian semua harus berlari 10 kali mengitari lapangan ini, 20 kali sit up, 30 kali push. Ini juga berlaku untuk kalian para siswi! Paham kalian?! Sekarang lakukan, cepat!!”
Semua terdiam dengan rasa takut dan keringat dingin yang membasahi. Aku yang sudah muak dengan semua ini. Aku maju dengan rasa emosi yang tinggi.
“Maaf, saya sangat keberatan dengan apa yang kakak perintahkan. Yang pertama, Ini tidak adil jika perempuan mendapatkan hukuman yang sama seperti laki-laki. Dan yang kedua, kakak kenapa tega-teganya memberikan perintah yang merendahkan harga diri kami dengan memasangkan sepatu kepada kakak?”
“Hahaha kamu berani juga ya bicara seperti itu kepada saya. Saya itu senior kamu!”
“Lalu kenapa? Apa hebatnya senior? Banyak juga kemampuan senior yang jauh lebih rendah dibandingkan juniornya!” tak sadar ternyata aku meluapkan emosi dengan bentakan keras yang mengheningkan keadaan.
“Kamu benar-benar membuat saya kesal! Sekarang kamu harus ambil sepatu itu di atas pohon dan pasangkan sepatu itu pada kedua kaki saya!!”
“Saya tidak sudi melakukan hal seperti itu, kecuali pada kedua orang tuaku!!”
“Ohh tidak sudi ya?? Sebagai gantinya semua siswa-siswi di sini harus mendapatkan hukuman yang sudah saya sebutkan tadi.”
Semua merasa ketakutan dan terlihat sedih. Tak kuasa aku melihatnya, akhirnya aku nekat memanjat pohon dan mengambil sepasang sepatu itu.  
Dengan raut muka kesal, aku berlutut dan memasangkan sepatu ini kepadanya. Namun aksiku dihentikan oleh tangan seseorang yang memegang tanganku dan aku ditarik ke arahnya.
“Sham.. loe kok keterlaluan banget sih hah?”
“Gue cuma jalanin tugas bro”
“Tapi gak gini caranya. Dia cewek gue, jangan pernah loe ganggu dia lagi.”
“Pacar? Kapan kita pacaran? Ouh mungkin Cuma aktingnya untuk menyelamatkanku” gumamku.
Kemudian Kak Gio membawaku pergi jauh dan kami bercakap-cakap.
“Hhaha jadi dia itu sebelumnya pernah dijailin Kak Gio pas ospek? Pantesan dia kelihatannya takut banget sama Kak Gio.” Tawa kami melupakan kejadian tadi.
“Hehe iya sya. Oh iya ada yang mau aku omongin ke kamu Farisya.”
“Iyah Kak ada apa?”
“Aku mau pindah ke Singapura, mungkin sampai aku lulus wisuda juga.”
“Hah? Terus kapan berangkat?” mendadak aku kaget mendengarnya.
“Besok Sya.”
“Secapat itu Kak Gio ninggalin aku?” tak sadar aku meneteskan air mata dan dengan segera aku menghapusnya dan menahan air mata ini.
“Kamu jaga diri baik-baik di sini. Oh iya kamu ada kertas atau buku gak?”
“Ada ini.”
Aku memberikan buku diary ku. Untungnya dia langsung membuka halaman agak terakhir dan tidak melihat isi diary ku yang penuh cerita tentangnya.
Dia menulis sesuatu di buku itu.
25 JUNI 2016
“Ini apa kak?”
“Ini perkiraan kita akan ketemu lagi dan aku akan memberi kejutan untukmu nanti.”
“7 tahun lagi? Hhuh itu bukan waktu yang singkat Kak.”
“Semangat J, kamu pasti bisa.”
Beberapa bulan kemudian, namun tidak ada kabar dari  Kak Gio. Dia menghilang tanpa memberiku informasi apapun.
Air mata mulai membasahi mukaku. Kini halaman terakhir buku diary ku basah dengan tetasan-tetesan air mata. Aku membaca tulisan tangan Kak Gio dengan tanggal 25 Juni 2016. Aku melihat kalender untuk memastikan tanggal berapa hari ini.
Ternyata sekarang adalah tanggal 25 Juni 2016 persis seperti yang ada di buku diary.
“Hhuh, mana janjimu Kak? Katanya kamu akan menemuiku dan memberiku kejutan? Ini sudah tiba waktunya, tetapi kenapa kamu belum juga menemuiku? Bahkan dihari pernikahanku ini kamu tidak hadir.”
Aku bercermin dan mencoba menghilangkan bekas tangisanku. Kemudian tiba-tiba..
“Farisya, ayo cepat keluar. Calon suamimu sudah datang. Akad nikah akan segera dimulai.”
“Iyah mah.” Dengan muka lemas aku keluar.
Seketika aku langsung duduk di depan penghulu. Suara dag dig dug yang kini ada di dalam dadaku.
“Apakah sudah siap? Mempelai putranya mana?” penghulu mulai bertanya.
Kemudian datang sosok pangeran tampan menggunakan jas hitam dan menggunakan peci. Terlihat sangat cool dan mukanya yang bersinar.
“Assalamualaikum. Saya mempelai putranya pak. Bisa kita segera mulai.” Dengan mantapnya ia menjawab.
Aku sangat kaget, sekaget-kagetnya. Dan masih bingung dengan semua ini. Rencana indah apakah ini?
Acara akad nikah berlangsung dengan lancar. Kini aku dan Kak Gio resmi menjadi Suami Istri. Aku menangis bahagia mencium tangannya dan langsung memeluknya.
Rasa rindu selama 7 tahun lamanya aku menunggu. Ternyata ini sebuah kejutan yang dia janjikan dahulu. Rasa cinta yang dulu aku tutupi, aku berusaha untuk menyembunyikannya. Kini tidak ada rahasia lagi diantara kita, yang ternyata Kak Gio juga memiliki rasa yang sama sejak dulu dan menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan rasa cintanya kepadaku.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar