#Wow Plot Challenge
Rencananya atau Rencana-Nya?
Oleh : Nazwa
Azzura
Mentari pagi perlahan muncul untuk menerangi indahnya bumi. Kicauan
burung-burung ikut menyambut cerahnya pagi hari ini. Telah ku dapati banyak
sekali orang-orang berdatangan ke rumah. Menggunakan pakaian resmi bercorak
batik dan berpenampilan anggun. Dari sisi jendela kamar, aku melihat beberapa
orang-orang penting juga berdatangan.
Tok..tok..tokk..
“Sya.. bagaimana
sudah siap?” tanya seorang separuh baya yang sudah berdandan cantik dan
bernampilan sangat anggun.
“Belum mah,
bentar lagi. Tinggal nyari bross bunga-bunga yang minggu lalu beli bareng
mamah.” Sambil nyari-nyari ke dalam almari.
“Kamu ya..
kenapa gak dari semalem disiapin sih Sya. Ya udah dipercepat yah. Tamu udah
banyak dan sebentar lagi calon suami kamu datang.”
“iyah mah iyah.”
Mamah pergi dan
menutup pintu kamar dengan segera.
“Hhuh, benarkah
aku akan menikah dengan orang tidak aku kenal sebelumnya? Melihatnya pun tak
pernah. Ya Allah ku serahkan semuanya kepada-Mu.” Gumamku sambil terus
mencari-cari bross dalam almari yang mungkin terselip.
Brruukk...
Terlihat ada
sesuatu yang jatuh dari dalam almari. Dengan segera aku mengambilnya.
“Book Diary?”
gumamku.
Buku kecil bersampul cokelat kusam dan nampaknya memang sudah sangat
lama. Buku yang berisikan tulisan-tulisan seperti ceker ayam pada halaman pertama, seperti kata beberapa orang yang
mengucapkannya pada tulisan yang jelek susah dibaca.
Ku buka lembar pertama bertuliskan tanggal 12 Juli 2006 di pojok kanan
atas. Aku mulai membaca dengan serius.
“Hey kamu.” Seseorang menunjuk ke arahku
dengan muka kesombongan sebagai senior.
“A..a..aku?”
Dengan gugup aku menjawab.
“Iyah kamu.
Cewek culun. Kemari!”
Perlahan aku mendekatinya dengan rasa takut. Takut jika disuruh melakukan
hal yang dia minta. Mentang-mentang dia senior bisa seenaknya memerintah
juniornya saat ospek. Ini sangat tidak adil bagiku.
“Kenapa kamu?
Apa yang sedang kamu pikirkan?”
“Aku memikirkan
ketidakadilan yang ada di sekolah ini.”
“Hhaha keadilan?
Coba kamu jelajahi sekolah-sekolah seluruh pelosok Indonesia kalau bisa, pasti
kamu menemukan saat-saat ospek seperti ini!”
Aku hanya terdiam dengan tubuh gemetaran karena bentakan suara kerasnya.
Dengan keheningan sejenak, seseorang yang sepertinya teman senior itu
menghampiri.
“Gio. Eh ada
yang mau aku bicarain. Sini deh bentar.”
Mereka terlihat membicarakan hal penting suatu konsep dengan cara
berbisik-bisik dan lumayan jauh dari jarakku berdiri.
“Ouh. Senior
galak itu namanya Gio.” Gumamku.
Terlihat mereka sudah selesai bercakap. Aku segera mengambil posisi
setegak mungkin agar tidak mendapatkan hukuman yang lebih berat lagi.
“Hey kamu.
Sekarang kamu cari 10 macam bunga yang berbeda-beda dan hanya dilingkungan
sekolah ini. waktunya sampai 1 jam sebelum adzan dhuhur. Paham?!”
“I..i...iya
kak.”
Sekarang waktu menunjukkan pukul 10.45. Aku langsung buru-buru mencari 10
macam bunga yang diperintahnya. Kini keberuntungan memihakku. Dengan cepat aku
berhasil mendapatkan 10 macam bunga yang berbeda.
Aku langsung berlari menemui Kak Gio. Namun dia menghilang entah kemana.
Tapi ternyata ada teman Kak Gio yang tadi bercakap dengannya. Dengan segera aku
menghampirinya.
“Assalamualaikum
Kak, ini saya sudah mendapatkan 10 bunga yang berbeda.” Dengan nafas yang
terengah-engah aku berbicara kepadanya.
“Oh iyah bagus.
Sekarang kasih ke kaka yang memakai baju kokoh putih dengan sarung abu-abu di
dalam musholah.”
“Hhuh siap kak!”
Tiba di musholah, mataku dengan giat mencari-cari seseorang yang dimaksud
kak Dani itu. Selintas aku melihat seseorang dengan ciri-ciri itu sedang
memasukkan uang ke dalam kotak amal. Kemudian mengarah ke tempat imam,
mengambil mikrophone. Aku pandangi
dengan serius apa yang akan dilakukannya dan apakah dia orang yang dimaksud Kak
Dani?
Allahu Akbar..
Allahu Akbar...
“Adzan?” gumamku
dengan pelan.
Aku tercengang, terpesona ahh.. entahlah apa sebutan saat apa yang sedang
ku rasakan ini. mendengar lantunan takbirnya membuatku lupa akan tugasku dan
langsung mengambil air wudhu untuk menyegerakan shalat.
Saat shalat selesai, aku baru teringat akan tugas bunga ini. Mata ini
mencari-cari seseorang itu dan terlihat mau keluar dari musholah. Dengan
buru-buru aku mengejarnya.
“Kak.. kak..
tunggu.!” Aku memberhentikannya setengah berteriak.
Kemudian orang
itu balik badan dan...
“Hhah K..Kak
Gio? Lhoh jadi yang dari tadi aku perhatiin sampai adzan tadi itu dia? Oh My
God..”
“Iya. Ada apa? Emm, tunggu dulu.” Dia berpikir
seperti sedang mengingat-ngingat.
“Oh iyah.. kamu
anak yang tadi saya panggil culun tadi ya? Maaf yah atas omongan saya yang
menyinggung. Gimana udah dapet semua bungannya?”
Aneh memang, ucapannya sekarang berubah jadi lembut dan sopan. Tidak
seperti saat dilapangan tadi saat dia memakai seragam. Suaranya yang keras
membentak-bentak. Wajah tampan dan senyumannya kini membuatku makin terpesona
dengannya. Ohh Kak Gio..
Cerita ini membuatku tertawa terbahak-bahak dan tidak menyangka. Kemudian
aku membuka lembar buku diary selanjutnya.
Kini aku sudah duduk dibangku SMA dan satu sekolah dengan Kak Gio. Masa
ospek selalu mengawali di area pendidikan formal. Aku kembali menuruti perintah
senior yang kini makin semena-mena perintahnya. Lebih menantang fisik juga
mental pada siswa-siswi baru.
“Salah satu
diantara kalian harus ada yang mengambil sepatu itu yang berada di atas pohon.
Kemudian memasangkannya kepada kedua kaki saya! Jika tidak ada yang berani,
kalian semua harus berlari 10 kali mengitari lapangan ini, 20 kali sit up, 30
kali push. Ini juga berlaku untuk kalian para siswi! Paham kalian?! Sekarang
lakukan, cepat!!”
Semua terdiam dengan rasa takut dan keringat dingin yang membasahi. Aku
yang sudah muak dengan semua ini. Aku maju dengan rasa emosi yang tinggi.
“Maaf, saya
sangat keberatan dengan apa yang kakak perintahkan. Yang pertama, Ini tidak
adil jika perempuan mendapatkan hukuman yang sama seperti laki-laki. Dan yang
kedua, kakak kenapa tega-teganya memberikan perintah yang merendahkan harga
diri kami dengan memasangkan sepatu kepada kakak?”
“Hahaha kamu
berani juga ya bicara seperti itu kepada saya. Saya itu senior kamu!”
“Lalu kenapa?
Apa hebatnya senior? Banyak juga kemampuan senior yang jauh lebih rendah
dibandingkan juniornya!” tak sadar ternyata aku meluapkan emosi dengan bentakan
keras yang mengheningkan keadaan.
“Kamu
benar-benar membuat saya kesal! Sekarang kamu harus ambil sepatu itu di atas
pohon dan pasangkan sepatu itu pada kedua kaki saya!!”
“Saya tidak sudi
melakukan hal seperti itu, kecuali pada kedua orang tuaku!!”
“Ohh tidak sudi
ya?? Sebagai gantinya semua siswa-siswi di sini harus mendapatkan hukuman yang
sudah saya sebutkan tadi.”
Semua merasa ketakutan dan terlihat sedih. Tak kuasa aku melihatnya,
akhirnya aku nekat memanjat pohon dan mengambil sepasang sepatu itu.
Dengan raut muka
kesal, aku berlutut dan memasangkan sepatu ini kepadanya. Namun aksiku
dihentikan oleh tangan seseorang yang memegang tanganku dan aku ditarik ke
arahnya.
“Sham.. loe kok
keterlaluan banget sih hah?”
“Gue cuma
jalanin tugas bro”
“Tapi gak gini
caranya. Dia cewek gue, jangan pernah loe ganggu dia lagi.”
“Pacar? Kapan
kita pacaran? Ouh mungkin Cuma aktingnya untuk menyelamatkanku” gumamku.
Kemudian Kak Gio
membawaku pergi jauh dan kami bercakap-cakap.
“Hhaha jadi dia
itu sebelumnya pernah dijailin Kak Gio pas ospek? Pantesan dia kelihatannya
takut banget sama Kak Gio.” Tawa kami melupakan kejadian tadi.
“Hehe iya sya. Oh
iya ada yang mau aku omongin ke kamu Farisya.”
“Iyah Kak ada
apa?”
“Aku mau pindah
ke Singapura, mungkin sampai aku lulus wisuda juga.”
“Hah? Terus
kapan berangkat?” mendadak aku kaget mendengarnya.
“Besok Sya.”
“Secapat itu Kak
Gio ninggalin aku?” tak sadar aku meneteskan air mata dan dengan segera aku
menghapusnya dan menahan air mata ini.
“Kamu jaga diri
baik-baik di sini. Oh iya kamu ada kertas atau buku gak?”
“Ada ini.”
Aku memberikan buku diary ku.
Untungnya dia langsung membuka halaman agak terakhir dan tidak melihat isi diary ku yang penuh cerita tentangnya.
Dia menulis
sesuatu di buku itu.
25
JUNI 2016
“Ini apa kak?”
“Ini perkiraan
kita akan ketemu lagi dan aku akan memberi kejutan untukmu nanti.”
“7 tahun lagi?
Hhuh itu bukan waktu yang singkat Kak.”
“Semangat J, kamu pasti bisa.”
Beberapa bulan kemudian, namun tidak ada kabar dari Kak Gio. Dia menghilang tanpa memberiku
informasi apapun.
Air mata mulai membasahi mukaku. Kini halaman terakhir buku diary ku basah dengan tetasan-tetesan
air mata. Aku membaca tulisan tangan Kak Gio dengan tanggal 25 Juni 2016. Aku
melihat kalender untuk memastikan tanggal berapa hari ini.
Ternyata
sekarang adalah tanggal 25 Juni 2016 persis seperti yang ada di buku diary.
“Hhuh, mana
janjimu Kak? Katanya kamu akan menemuiku dan memberiku kejutan? Ini sudah tiba
waktunya, tetapi kenapa kamu belum juga menemuiku? Bahkan dihari pernikahanku
ini kamu tidak hadir.”
Aku bercermin
dan mencoba menghilangkan bekas tangisanku. Kemudian tiba-tiba..
“Farisya, ayo
cepat keluar. Calon suamimu sudah datang. Akad nikah akan segera dimulai.”
“Iyah mah.”
Dengan muka lemas aku keluar.
Seketika aku langsung duduk di depan penghulu. Suara dag dig dug yang
kini ada di dalam dadaku.
“Apakah sudah
siap? Mempelai putranya mana?” penghulu mulai bertanya.
Kemudian datang sosok pangeran tampan menggunakan jas hitam dan menggunakan
peci. Terlihat sangat cool dan mukanya yang bersinar.
“Assalamualaikum.
Saya mempelai putranya pak. Bisa kita segera mulai.” Dengan mantapnya ia
menjawab.
Aku sangat
kaget, sekaget-kagetnya. Dan masih bingung dengan semua ini. Rencana indah
apakah ini?
Acara akad nikah berlangsung dengan lancar. Kini aku dan Kak Gio resmi
menjadi Suami Istri. Aku menangis bahagia mencium tangannya dan langsung
memeluknya.
Rasa rindu selama 7 tahun lamanya aku menunggu. Ternyata ini sebuah
kejutan yang dia janjikan dahulu. Rasa cinta yang dulu aku tutupi, aku berusaha
untuk menyembunyikannya. Kini tidak ada rahasia lagi diantara kita, yang
ternyata Kak Gio juga memiliki rasa yang sama sejak dulu dan menunggu waktu yang
tepat untuk mengungkapkan rasa cintanya kepadaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar