Prasangka Sahabat
Oleh : Nazwa Azzura
“Kau akan mati ditanganku, pecundang!!!!!”
kepalan tangan yang penuh dengan emosi mengikat lingkaran leher Bima, sang
musuh yang selama ini diincar.
“Hhaha apa kau yakin bocah tengil?! Ilmumu
masih seujung jariku ini nih, hahaha.”
Amarah yang memuncak sampai kehilangan
akal untuk mematahkan lehernya. Namun, niat Fariz dihentikan oleh teriakan
seorang laki-laki separuh baya.
“Farizzzz.. Tunggu. Jangan sampai kau
termakan dengan emosimu. Ingat nak, dampak setelah kau berhasil membunuhnya.
Jangan sampai kau menyesal hanya karena manusia itu!” Pak kyai berteriak dari
kejauhan.
Di antara obrolannya dengan pak kyai, Bima
menyuitkan mulutnya dengan kedua jari tangannya. Dengan sekejap, Pasukan musuh
dari komplotan sohibnya berdatangan. Dengan segera, Bima pun lolos dari
genggaman Fariz karena lengah saat dirinya berbicara pada pak kyai.
“Apa yang kau lakukan?!!” tanya Fariz
dengan kesal.
“Haha kau takut ya?” Bima berada di paling
depan teman-temannya yang mengisyaratkan bahwa dia adalah Pemimpin dari mereka.
“Dasar pengecut kau!! Beraninya
keroyokan!! Hampir saja aku mematahkan lehermu!! Harusnya kau bersyukur Bim.
Kau tidak jadi mati hari ini.”
Perlahan pak kyai mendekati Fariz.
“Sabar Rizz,kau harus fokus berada dalam
situasi seperti ini.”
“Saya tidak tahan lagi pak kyai dengan
perilaku dan cara bicaranya.”
Kemudian, pak kyai berbisik padanya, “Dalam
hitungan ketiga, kita harus kabur. Gunakan ilmumu yang sudah saya ajarkan.”
“Baik pak kyai.”
“Satu, dua, tiga...”
Ssstttttttt..... Seketika mereka berlari
kencang layaknya hembusan angin yang menerpa. Dalam kejapan mata, mereka pun
menghilang.
“Kemana mereka pergi!” tanya Bima pada
sohib-sohibnya penuh kesal.
“Mereka kabur Bim.”
“Aaaaaaahhhhhh!!!!!! Siaaalll... Kenapa
kalian gak ada yang mencegatnya. Padahal aku yakin mereka akan mati babak belur
oleh kita.”
“Kita gak akan tahu kalau mereka akan kabur
secepat itu Bim, loe jangan salahin kita dong! Loe gak akan selamat kalau gak
ada kita man.” salah satu temannya
sudah mulai terpengaruh dengan kata-kata yang keluar dari mulut berbisanya
Bima.
“Jadi loe nantang gua man? Loe berani-beraninya ngomong kaya gitu di depan gua hah?!!!
Padahal gua udah ngomong sopan ya ke loe semua!! Gua itu pemimpin kalian!!”
Teriak Bima.
Bukannya semua sohibnya tunduk patuh
padanya, namun kini semua bersatu untuk menyerangnya. Menyerang untuk
ketidakadilan yang mereka dapat dari seorang sahabat, bukan pemimpin seperti
yang Bima mau.
Kemudian mereka perlahan maju mendekati
Bima dengan raut muka geram penuh kepalan-kepalan yang membakar.
“Apa-apaan ini. Kenapa kalian semua
seperti itu! Haha kalian acting ya?”
Semakin mendekat, mereka akan berada di
depan mata Bima.
“Kita semua gak bercanda Bim, kita semua
akan nyerang loe.!!”
“Udah deh, okay gua minta maaf. Gua tadi
khilaf, gua emosi banget sama anak santri tadi. Gua.....”
Tanpa melanjutkan kata-katanya, Bima
langsung dihajar oleh sekelompok teman-temannya.
Esok hari, Fariz diminta untuk menjemput
adik-adik santrinya yang habis berkunjung ke kebun binatang.
Dengan hati riang, Fariz mengendarai mobil
membawa adik-adik manis. Namun tiba-tiba Fariz mengerem mobilnya dengan
tiba-tiba.
Ciiiittttt.....
“Astaghfirullahal a’dzim.” Dengan terburu,
Fariz berlari mendekati seorang pemuda. Pemuda itu tergeletak penuh dengan
darah di sekujur tubuhnya. Saat Fariz hendak memeriksa hembusan nafas dihidung
Pemuda itu, tersentak dia kaget.
“Bima?! Astaghfirullahal a'dzim. Kenapa
ini anak sih. Lalu, apa aku harus menyelamatkan dia yang sudah membunuh adikku?
Ya Allah apa yang harus aku lakukan.”
Dengan perasaan yag bingung menolong Bima
atau tidak. Karena masih ada perasaan dendam di dalam diri Fariz. Tanpa pikir
panjang, dia mengangkat Bima dan memasukkannya ke dalam mobil.
Semua anak-anak kaget dan sempat ketakutan
karena melihat darah yang berlumuran di tubuh Bima.
“Kak, pemuda ini siapa? Kenapa sampai
banyak darah?” salah satu adik santri yang khawatir.
“Ayo cepat Kak Fariz. Kita langsung bawa
ke pondok. Kita minta Paman Daruz untuk mengobatinya.” Salah satu yang lainnya
juga sangat bersimpati terhadap Bima yang sedang terluka parah.
“Iya iya, ini Kak Fariz berusaha cepat.
Semuanya berdoa semoga kita sampai pondok dengan selamat. Dan kakak ini juga
bisa sempat diobati Paman Daruz.
Dengan gesitnya mobil itu melaju kencang.
Saat tiba, Fariz segera membawa Bima ke
UKS pondok.
“Ada apa ini Fariz, siapa dia?” tanya
Paman Daruz yang langsung memeriksa detang jantungnya.
“Dia temanku paman, tolong obati dia
sebaik mungkin.”
“Baik, paman akan berusaha sebaik mungkin.
Kamu berdoa saja yah, semoga temanmu ini bisa selamat. Karena detak jantungnya
melemah.”
“Tolong usahakan paman.”
Paman Daruz mengangguk dan segera menutup
pintu UKS.
Aku berada di luar dan tiba-tiba pak kyai
datang.
“Fariz, kata anak-anak ada pemuda yang
tadi kau temukan dipinggir jalan tergeletak berlumuran darah? Apa benar?”
“Iiya pak kyai. Detak jantungnya pun
melemah. Dia sedang ditangani Paman Daruz.”
“Alhamdulillah kalau begitu. Apa kau
mengenalnya?”
Fariz tersentak dengan pertanyaan pak
kyai. Dia bingung harus menjawab apa. Kemudian Paman Daruz membuka pintu UKS
dan keluar memberitahukan kabar Bima pada Fariz.
“Fariz, alhamdulillah, pemuda itu sudah
melewati masa kritisnya. Namun dia masih belum sadar. Kau tetap harus
mendoakannya.”
“Alhamdulillah, terimakasih banyak paman.”
“Baik, saya tinggal dulu sebentar yah.
Mari pak kyai. Assalamualaikum.”
“Waalaikumussalam.”
Fariz segera masuk dan melihat keadaan
Bima yang belum juga sadar. Disusul pak kyai yang sempat kaget setelah melihat
pemuda yang terbaring lemah di pondok miliknya itu adalah Bima.
“Astaghfirullahal a’dzim, Fariz.. Kenapa
kau tidak bilang bahwa pemuda ini adalah Bima?”
“Maaf pak kyai, saya takut pak kyai
marah.”
“Tidak, saya tidak akan marah. Justru saya
akan segera membantu untuk mengobatinya.”
Fariz semakin bingung dengan pak kyai.
Beliau selalu baik pada Bima, padahal beliau tahu bahwa Bima tu pembunuh.
Pembunuh adik kecil yang sangat Fariz sayangi.
Tiba-tiba Bima sadar.
“I..ii..ini dimana?” Bima merasa
kebingungan dengan apa yang sedang dialaminya.
“Kamu ada di UKS pondok nak Bima. Fariz
yang membawamu kemari dengan banyak berlumuran darah di sekujur tubuhku.” pak
kyai menjelaskan dan memegang pundak ku.
“Makasih Riz.” ungkapan terima kasih yang
tulus dari seorang Bima.
“Gak usah makasih terhadapku. Makasih
kepada Allah SWT. Aku hanya perantaranya saja.!” dengan ketusnya Faris menjawab
lalu pergi.
“Nak Bima, sebentar yah.” pak kyai
menyusul Fariz dan mencegatnya.
“Fariz, mau kemana kau? Tolong temani
Bima.”
“Saya tidak sudi pak kyai. Biarlah dia
merasakan apa yang saya rasakan. Sendiri saat kehilangan adik saya!.” Dengan
kesal Fariz menjelaskan.
“Apa masih ada dendam di hatimu Riz? Itu
tidak baik. Sudahlah maafkan saja. Ikhlaskanlah biar adikmu juga tenang.”
“Gak bisa pak kyai, dia itu pembunuh!
Pembunuh adik saya!!”
“Kau ini salah paham Riz.”
“Salah paham bagaimana pak kyai?”
“Dengar baik-baik. Yang membunuh adikmu
itu bukan Bima. Tapi ayahnya. Ayahnya yang menyuruh Bima membunuh adikmu.
Namun, karena kau adalah sahabatnya, dia tidak tega melakukannya. Saat Bima
bersama ayahnya dalam mobil yang berniat untuk menabrak adikmu, Fariz sengaja
melencengkan setirnya agar tidak menabrak adikmu. Namun ayahnya merebut setir
dan membantingkannya ke arah adikmu dan akhirnya adikmu tertabrak. Mobil yg di
setirnya pun menabrak pohon. Ayahnya Bima pun meninggal. Hanya Bima yang hidup
dalam tragedi itu.”
“A..apa seperti itu kebenarannya pak
kyai?” Fariz tertunduk lemas mendengarkan cerita pak kyai.
“Iyah nak Fariz. Itu kebenarannya. Dia
berusaha menutupi kejadian yang sebenarnya agar nama ayahnya tidak tercoreng.”
“Astaghfirullahal a’dzim.”
Fariz berlari meninggalkan pak kyai dan
membuka pintu UKS dengan kencangnya dan masuk sampai Bima terbangun. Dengan
pandangan kosong, perlahan Fariz mendekati Bima.
“A..a..ada apa?” Bima bertanya sambil
gemetaran merasa ketakutan.
Memeluk sahabat lamanya yang terbaring
lemah dan berkata lirih.
“Maafkan aku, sahabatku.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar