Selasa, 14 Juni 2016

Prasangka Sahabat



Prasangka Sahabat
Oleh : Nazwa Azzura
“Kau akan mati ditanganku, pecundang!!!!!” kepalan tangan yang penuh dengan emosi mengikat lingkaran leher Bima, sang musuh yang selama ini diincar.
“Hhaha apa kau yakin bocah tengil?! Ilmumu masih seujung jariku ini nih, hahaha.”
Amarah yang memuncak sampai kehilangan akal untuk mematahkan lehernya. Namun, niat Fariz dihentikan oleh teriakan seorang laki-laki separuh baya.
“Farizzzz.. Tunggu. Jangan sampai kau termakan dengan emosimu. Ingat nak, dampak setelah kau berhasil membunuhnya. Jangan sampai kau menyesal hanya karena manusia itu!” Pak kyai berteriak dari kejauhan.
Di antara obrolannya dengan pak kyai, Bima menyuitkan mulutnya dengan kedua jari tangannya. Dengan sekejap, Pasukan musuh dari komplotan sohibnya berdatangan. Dengan segera, Bima pun lolos dari genggaman Fariz karena lengah saat dirinya berbicara pada pak kyai.
“Apa yang kau lakukan?!!” tanya Fariz dengan kesal.
“Haha kau takut ya?” Bima berada di paling depan teman-temannya yang mengisyaratkan bahwa dia adalah Pemimpin dari mereka.
“Dasar pengecut kau!! Beraninya keroyokan!! Hampir saja aku mematahkan lehermu!! Harusnya kau bersyukur Bim. Kau tidak jadi mati hari ini.”
Perlahan pak kyai mendekati Fariz.
“Sabar Rizz,kau harus fokus berada dalam situasi seperti ini.”
“Saya tidak tahan lagi pak kyai dengan perilaku dan cara bicaranya.”
Kemudian, pak kyai berbisik padanya, “Dalam hitungan ketiga, kita harus kabur. Gunakan ilmumu yang sudah saya ajarkan.”
“Baik pak kyai.”
“Satu, dua, tiga...”
Ssstttttttt..... Seketika mereka berlari kencang layaknya hembusan angin yang menerpa. Dalam kejapan mata, mereka pun menghilang.
“Kemana mereka pergi!” tanya Bima pada sohib-sohibnya penuh kesal.
“Mereka kabur Bim.”
“Aaaaaaahhhhhh!!!!!! Siaaalll... Kenapa kalian gak ada yang mencegatnya. Padahal aku yakin mereka akan mati babak belur oleh kita.”
“Kita gak akan tahu kalau mereka akan kabur secepat itu Bim, loe jangan salahin kita dong! Loe gak akan selamat kalau gak ada kita man.” salah satu temannya sudah mulai terpengaruh dengan kata-kata yang keluar dari mulut berbisanya Bima.
“Jadi loe nantang gua man? Loe berani-beraninya ngomong kaya gitu di depan gua hah?!!! Padahal gua udah ngomong sopan ya ke loe semua!! Gua itu pemimpin kalian!!” Teriak Bima.
Bukannya semua sohibnya tunduk patuh padanya, namun kini semua bersatu untuk menyerangnya. Menyerang untuk ketidakadilan yang mereka dapat dari seorang sahabat, bukan pemimpin seperti yang Bima mau.
Kemudian mereka perlahan maju mendekati Bima dengan raut muka geram penuh kepalan-kepalan yang membakar.
“Apa-apaan ini. Kenapa kalian semua seperti itu! Haha kalian acting ya?”
Semakin mendekat, mereka akan berada di depan mata Bima.
“Kita semua gak bercanda Bim, kita semua akan nyerang loe.!!”
“Udah deh, okay gua minta maaf. Gua tadi khilaf, gua emosi banget sama anak santri tadi. Gua.....”
Tanpa melanjutkan kata-katanya, Bima langsung dihajar oleh sekelompok teman-temannya.
Esok hari, Fariz diminta untuk menjemput adik-adik santrinya yang habis berkunjung ke kebun binatang.
Dengan hati riang, Fariz mengendarai mobil membawa adik-adik manis. Namun tiba-tiba Fariz mengerem mobilnya dengan tiba-tiba.
Ciiiittttt.....
“Astaghfirullahal a’dzim.” Dengan terburu, Fariz berlari mendekati seorang pemuda. Pemuda itu tergeletak penuh dengan darah di sekujur tubuhnya. Saat Fariz hendak memeriksa hembusan nafas dihidung Pemuda itu, tersentak dia kaget.
“Bima?! Astaghfirullahal a'dzim. Kenapa ini anak sih. Lalu, apa aku harus menyelamatkan dia yang sudah membunuh adikku? Ya Allah apa yang harus aku lakukan.”
Dengan perasaan yag bingung menolong Bima atau tidak. Karena masih ada perasaan dendam di dalam diri Fariz. Tanpa pikir panjang, dia mengangkat Bima dan memasukkannya ke dalam mobil.
Semua anak-anak kaget dan sempat ketakutan karena melihat darah yang berlumuran di tubuh Bima.
“Kak, pemuda ini siapa? Kenapa sampai banyak darah?” salah satu adik santri yang khawatir.
“Ayo cepat Kak Fariz. Kita langsung bawa ke pondok. Kita minta Paman Daruz untuk mengobatinya.” Salah satu yang lainnya juga sangat bersimpati terhadap Bima yang sedang terluka parah.
“Iya iya, ini Kak Fariz berusaha cepat. Semuanya berdoa semoga kita sampai pondok dengan selamat. Dan kakak ini juga bisa sempat diobati Paman Daruz.
Dengan gesitnya mobil itu melaju kencang.
Saat tiba, Fariz segera membawa Bima ke UKS pondok.
“Ada apa ini Fariz, siapa dia?” tanya Paman Daruz yang langsung memeriksa detang jantungnya.
“Dia temanku paman, tolong obati dia sebaik mungkin.” 
“Baik, paman akan berusaha sebaik mungkin. Kamu berdoa saja yah, semoga temanmu ini bisa selamat. Karena detak jantungnya melemah.”
“Tolong usahakan paman.”
Paman Daruz mengangguk dan segera menutup pintu UKS.
Aku berada di luar dan tiba-tiba pak kyai datang.
“Fariz, kata anak-anak ada pemuda yang tadi kau temukan dipinggir jalan tergeletak berlumuran darah? Apa benar?”
“Iiya pak kyai. Detak jantungnya pun melemah. Dia sedang ditangani Paman Daruz.”
“Alhamdulillah kalau begitu. Apa kau mengenalnya?”
Fariz tersentak dengan pertanyaan pak kyai. Dia bingung harus menjawab apa. Kemudian Paman Daruz membuka pintu UKS dan keluar memberitahukan kabar Bima pada Fariz.
“Fariz, alhamdulillah, pemuda itu sudah melewati masa kritisnya. Namun dia masih belum sadar. Kau tetap harus mendoakannya.”
“Alhamdulillah, terimakasih banyak paman.”
“Baik, saya tinggal dulu sebentar yah. Mari pak kyai. Assalamualaikum.”
“Waalaikumussalam.”
Fariz segera masuk dan melihat keadaan Bima yang belum juga sadar. Disusul pak kyai yang sempat kaget setelah melihat pemuda yang terbaring lemah di pondok miliknya itu adalah Bima.
“Astaghfirullahal a’dzim, Fariz.. Kenapa kau tidak bilang bahwa pemuda ini adalah Bima?”
“Maaf pak kyai, saya takut pak kyai marah.”
“Tidak, saya tidak akan marah. Justru saya akan segera membantu untuk mengobatinya.”
Fariz semakin bingung dengan pak kyai. Beliau selalu baik pada Bima, padahal beliau tahu bahwa Bima tu pembunuh. Pembunuh adik kecil yang sangat Fariz sayangi.
Tiba-tiba Bima sadar.
“I..ii..ini dimana?” Bima merasa kebingungan dengan apa yang sedang dialaminya.
“Kamu ada di UKS pondok nak Bima. Fariz yang membawamu kemari dengan banyak berlumuran darah di sekujur tubuhku.” pak kyai menjelaskan dan memegang pundak ku.
“Makasih Riz.” ungkapan terima kasih yang tulus dari seorang Bima.
“Gak usah makasih terhadapku. Makasih kepada Allah SWT. Aku hanya perantaranya saja.!” dengan ketusnya Faris menjawab lalu pergi.
“Nak Bima, sebentar yah.” pak kyai menyusul Fariz dan mencegatnya.
“Fariz, mau kemana kau? Tolong temani Bima.”
“Saya tidak sudi pak kyai. Biarlah dia merasakan apa yang saya rasakan. Sendiri saat kehilangan adik saya!.” Dengan kesal Fariz menjelaskan.
“Apa masih ada dendam di hatimu Riz? Itu tidak baik. Sudahlah maafkan saja. Ikhlaskanlah biar adikmu juga tenang.”
“Gak bisa pak kyai, dia itu pembunuh! Pembunuh adik saya!!”
“Kau ini salah paham Riz.”
“Salah paham bagaimana pak kyai?”
“Dengar baik-baik. Yang membunuh adikmu itu bukan Bima. Tapi ayahnya. Ayahnya yang menyuruh Bima membunuh adikmu. Namun, karena kau adalah sahabatnya, dia tidak tega melakukannya. Saat Bima bersama ayahnya dalam mobil yang berniat untuk menabrak adikmu, Fariz sengaja melencengkan setirnya agar tidak menabrak adikmu. Namun ayahnya merebut setir dan membantingkannya ke arah adikmu dan akhirnya adikmu tertabrak. Mobil yg di setirnya pun menabrak pohon. Ayahnya Bima pun meninggal. Hanya Bima yang hidup dalam tragedi itu.”
“A..apa seperti itu kebenarannya pak kyai?” Fariz tertunduk lemas mendengarkan cerita pak kyai.
“Iyah nak Fariz. Itu kebenarannya. Dia berusaha menutupi kejadian yang sebenarnya agar nama ayahnya tidak tercoreng.”
“Astaghfirullahal a’dzim.”
Fariz berlari meninggalkan pak kyai dan membuka pintu UKS dengan kencangnya dan masuk sampai Bima terbangun. Dengan pandangan kosong, perlahan Fariz mendekati Bima.
“A..a..ada apa?” Bima bertanya sambil gemetaran merasa ketakutan.
Memeluk sahabat lamanya yang terbaring lemah dan berkata lirih.
“Maafkan aku, sahabatku.”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar