Selasa, 14 Juni 2016

Prasangka Sahabat



Prasangka Sahabat
Oleh : Nazwa Azzura
“Kau akan mati ditanganku, pecundang!!!!!” kepalan tangan yang penuh dengan emosi mengikat lingkaran leher Bima, sang musuh yang selama ini diincar.
“Hhaha apa kau yakin bocah tengil?! Ilmumu masih seujung jariku ini nih, hahaha.”
Amarah yang memuncak sampai kehilangan akal untuk mematahkan lehernya. Namun, niat Fariz dihentikan oleh teriakan seorang laki-laki separuh baya.
“Farizzzz.. Tunggu. Jangan sampai kau termakan dengan emosimu. Ingat nak, dampak setelah kau berhasil membunuhnya. Jangan sampai kau menyesal hanya karena manusia itu!” Pak kyai berteriak dari kejauhan.
Di antara obrolannya dengan pak kyai, Bima menyuitkan mulutnya dengan kedua jari tangannya. Dengan sekejap, Pasukan musuh dari komplotan sohibnya berdatangan. Dengan segera, Bima pun lolos dari genggaman Fariz karena lengah saat dirinya berbicara pada pak kyai.
“Apa yang kau lakukan?!!” tanya Fariz dengan kesal.
“Haha kau takut ya?” Bima berada di paling depan teman-temannya yang mengisyaratkan bahwa dia adalah Pemimpin dari mereka.
“Dasar pengecut kau!! Beraninya keroyokan!! Hampir saja aku mematahkan lehermu!! Harusnya kau bersyukur Bim. Kau tidak jadi mati hari ini.”
Perlahan pak kyai mendekati Fariz.
“Sabar Rizz,kau harus fokus berada dalam situasi seperti ini.”
“Saya tidak tahan lagi pak kyai dengan perilaku dan cara bicaranya.”
Kemudian, pak kyai berbisik padanya, “Dalam hitungan ketiga, kita harus kabur. Gunakan ilmumu yang sudah saya ajarkan.”
“Baik pak kyai.”
“Satu, dua, tiga...”
Ssstttttttt..... Seketika mereka berlari kencang layaknya hembusan angin yang menerpa. Dalam kejapan mata, mereka pun menghilang.
“Kemana mereka pergi!” tanya Bima pada sohib-sohibnya penuh kesal.
“Mereka kabur Bim.”
“Aaaaaaahhhhhh!!!!!! Siaaalll... Kenapa kalian gak ada yang mencegatnya. Padahal aku yakin mereka akan mati babak belur oleh kita.”
“Kita gak akan tahu kalau mereka akan kabur secepat itu Bim, loe jangan salahin kita dong! Loe gak akan selamat kalau gak ada kita man.” salah satu temannya sudah mulai terpengaruh dengan kata-kata yang keluar dari mulut berbisanya Bima.
“Jadi loe nantang gua man? Loe berani-beraninya ngomong kaya gitu di depan gua hah?!!! Padahal gua udah ngomong sopan ya ke loe semua!! Gua itu pemimpin kalian!!” Teriak Bima.
Bukannya semua sohibnya tunduk patuh padanya, namun kini semua bersatu untuk menyerangnya. Menyerang untuk ketidakadilan yang mereka dapat dari seorang sahabat, bukan pemimpin seperti yang Bima mau.
Kemudian mereka perlahan maju mendekati Bima dengan raut muka geram penuh kepalan-kepalan yang membakar.
“Apa-apaan ini. Kenapa kalian semua seperti itu! Haha kalian acting ya?”
Semakin mendekat, mereka akan berada di depan mata Bima.
“Kita semua gak bercanda Bim, kita semua akan nyerang loe.!!”
“Udah deh, okay gua minta maaf. Gua tadi khilaf, gua emosi banget sama anak santri tadi. Gua.....”
Tanpa melanjutkan kata-katanya, Bima langsung dihajar oleh sekelompok teman-temannya.
Esok hari, Fariz diminta untuk menjemput adik-adik santrinya yang habis berkunjung ke kebun binatang.
Dengan hati riang, Fariz mengendarai mobil membawa adik-adik manis. Namun tiba-tiba Fariz mengerem mobilnya dengan tiba-tiba.
Ciiiittttt.....
“Astaghfirullahal a’dzim.” Dengan terburu, Fariz berlari mendekati seorang pemuda. Pemuda itu tergeletak penuh dengan darah di sekujur tubuhnya. Saat Fariz hendak memeriksa hembusan nafas dihidung Pemuda itu, tersentak dia kaget.
“Bima?! Astaghfirullahal a'dzim. Kenapa ini anak sih. Lalu, apa aku harus menyelamatkan dia yang sudah membunuh adikku? Ya Allah apa yang harus aku lakukan.”
Dengan perasaan yag bingung menolong Bima atau tidak. Karena masih ada perasaan dendam di dalam diri Fariz. Tanpa pikir panjang, dia mengangkat Bima dan memasukkannya ke dalam mobil.
Semua anak-anak kaget dan sempat ketakutan karena melihat darah yang berlumuran di tubuh Bima.
“Kak, pemuda ini siapa? Kenapa sampai banyak darah?” salah satu adik santri yang khawatir.
“Ayo cepat Kak Fariz. Kita langsung bawa ke pondok. Kita minta Paman Daruz untuk mengobatinya.” Salah satu yang lainnya juga sangat bersimpati terhadap Bima yang sedang terluka parah.
“Iya iya, ini Kak Fariz berusaha cepat. Semuanya berdoa semoga kita sampai pondok dengan selamat. Dan kakak ini juga bisa sempat diobati Paman Daruz.
Dengan gesitnya mobil itu melaju kencang.
Saat tiba, Fariz segera membawa Bima ke UKS pondok.
“Ada apa ini Fariz, siapa dia?” tanya Paman Daruz yang langsung memeriksa detang jantungnya.
“Dia temanku paman, tolong obati dia sebaik mungkin.” 
“Baik, paman akan berusaha sebaik mungkin. Kamu berdoa saja yah, semoga temanmu ini bisa selamat. Karena detak jantungnya melemah.”
“Tolong usahakan paman.”
Paman Daruz mengangguk dan segera menutup pintu UKS.
Aku berada di luar dan tiba-tiba pak kyai datang.
“Fariz, kata anak-anak ada pemuda yang tadi kau temukan dipinggir jalan tergeletak berlumuran darah? Apa benar?”
“Iiya pak kyai. Detak jantungnya pun melemah. Dia sedang ditangani Paman Daruz.”
“Alhamdulillah kalau begitu. Apa kau mengenalnya?”
Fariz tersentak dengan pertanyaan pak kyai. Dia bingung harus menjawab apa. Kemudian Paman Daruz membuka pintu UKS dan keluar memberitahukan kabar Bima pada Fariz.
“Fariz, alhamdulillah, pemuda itu sudah melewati masa kritisnya. Namun dia masih belum sadar. Kau tetap harus mendoakannya.”
“Alhamdulillah, terimakasih banyak paman.”
“Baik, saya tinggal dulu sebentar yah. Mari pak kyai. Assalamualaikum.”
“Waalaikumussalam.”
Fariz segera masuk dan melihat keadaan Bima yang belum juga sadar. Disusul pak kyai yang sempat kaget setelah melihat pemuda yang terbaring lemah di pondok miliknya itu adalah Bima.
“Astaghfirullahal a’dzim, Fariz.. Kenapa kau tidak bilang bahwa pemuda ini adalah Bima?”
“Maaf pak kyai, saya takut pak kyai marah.”
“Tidak, saya tidak akan marah. Justru saya akan segera membantu untuk mengobatinya.”
Fariz semakin bingung dengan pak kyai. Beliau selalu baik pada Bima, padahal beliau tahu bahwa Bima tu pembunuh. Pembunuh adik kecil yang sangat Fariz sayangi.
Tiba-tiba Bima sadar.
“I..ii..ini dimana?” Bima merasa kebingungan dengan apa yang sedang dialaminya.
“Kamu ada di UKS pondok nak Bima. Fariz yang membawamu kemari dengan banyak berlumuran darah di sekujur tubuhku.” pak kyai menjelaskan dan memegang pundak ku.
“Makasih Riz.” ungkapan terima kasih yang tulus dari seorang Bima.
“Gak usah makasih terhadapku. Makasih kepada Allah SWT. Aku hanya perantaranya saja.!” dengan ketusnya Faris menjawab lalu pergi.
“Nak Bima, sebentar yah.” pak kyai menyusul Fariz dan mencegatnya.
“Fariz, mau kemana kau? Tolong temani Bima.”
“Saya tidak sudi pak kyai. Biarlah dia merasakan apa yang saya rasakan. Sendiri saat kehilangan adik saya!.” Dengan kesal Fariz menjelaskan.
“Apa masih ada dendam di hatimu Riz? Itu tidak baik. Sudahlah maafkan saja. Ikhlaskanlah biar adikmu juga tenang.”
“Gak bisa pak kyai, dia itu pembunuh! Pembunuh adik saya!!”
“Kau ini salah paham Riz.”
“Salah paham bagaimana pak kyai?”
“Dengar baik-baik. Yang membunuh adikmu itu bukan Bima. Tapi ayahnya. Ayahnya yang menyuruh Bima membunuh adikmu. Namun, karena kau adalah sahabatnya, dia tidak tega melakukannya. Saat Bima bersama ayahnya dalam mobil yang berniat untuk menabrak adikmu, Fariz sengaja melencengkan setirnya agar tidak menabrak adikmu. Namun ayahnya merebut setir dan membantingkannya ke arah adikmu dan akhirnya adikmu tertabrak. Mobil yg di setirnya pun menabrak pohon. Ayahnya Bima pun meninggal. Hanya Bima yang hidup dalam tragedi itu.”
“A..apa seperti itu kebenarannya pak kyai?” Fariz tertunduk lemas mendengarkan cerita pak kyai.
“Iyah nak Fariz. Itu kebenarannya. Dia berusaha menutupi kejadian yang sebenarnya agar nama ayahnya tidak tercoreng.”
“Astaghfirullahal a’dzim.”
Fariz berlari meninggalkan pak kyai dan membuka pintu UKS dengan kencangnya dan masuk sampai Bima terbangun. Dengan pandangan kosong, perlahan Fariz mendekati Bima.
“A..a..ada apa?” Bima bertanya sambil gemetaran merasa ketakutan.
Memeluk sahabat lamanya yang terbaring lemah dan berkata lirih.
“Maafkan aku, sahabatku.”


Teknologi Menguasai Dunia

Teknologi Menguasai Dunia
#World 2099 Challenge
Teknologi Menguasai Dunia
Oleh : Nazwa Azzura
Zaman telah berubah, teknologi semakin canggih dan manusia hanya bergantung dengan alat-alat teknologi canggihnya. Apapun terbuat dari teknologi, mulai dari sepeda berkecepatan kilat, mobil terbang, dan alat-alat canggih lainnya.
Namun disisi lain, bumi semakin panas, hampir tidak ada tumbuhan lagi yang berada di bumi. Semua telah musnah yang dahulunya hijau sejuk banyak binatang, namun kini semua sudah musnah. Hanya binatang yang bertahan dengan kondisi panas seperti padang pasir di Saudi Arabia dahulu.
Dengan bantuan teknologi, mereka bisa menghidupi diri mereka. Apapun yang dibutuhkan, hanya dengan menggerakkan tangan sesuai password, maka kebutuhan itu akan terpenuhi. Seperti halnya rumahku. Seisi rumah termasuk barang-barang sudah terpassword oleh gerakkan tangan masing-masing keluargaku saja.
“Nadine.. kau sudah bangun?”
Terdengar suara mamah memanggil.
“Iya mah, aku udah bangun kok.” Teriakku yang sedang memilah-milah baju dengan gerakan tanganku sebagai password di depan almari.
“Hm, nampaknya aku pakai baju ini saja untuk hari yang panas ini, ups bukan hari ini saja entah kapan matahari akan mau berdamai dengan bumi” pikirku.
Bersiap-siap untuk berangkat kuliah, aku memasukkan beberapa file bacaan untuk bahan belajar. Tanpa mengunakan buku, hanya dengan mesin seperti tablet berlayar kaca dan memasukkan file ke dalamnya. Tak ada kertas untuk dijadikan sebagai buku. Istilah buku pada zaman nenek moyangku yang sekarang sudah musnah. Kini hanya ada mesin teknologi semacamnya.
“Hei mam, apakah kali ini kita berangkat bersama?” tanyaku.
“Yah, kali ini kita berangkat bersama. Tapi tidak dengan papah, dia sudah berangkat dari tadi sebelum kau bangun.” Mamah menjawab sambil menyiapkan sarapan pagi.
“Waw secepat itukah. Apakah proyek itu sangat urgent?”
“Yah proyek papah kali ini untuk menyelamatkan manusia. Mengolah air laut untuk kehidupan sehari-hari manusia. Karena sekarang benar-benar kekeringan, jadi terpaksa harus mengolah air laut untuk kehidupan manusia termasuk kita sayang.”
Yah begitulah papah sang Arsitek relawan. Dan aku bangga memilikinya guys .
“Ini luar biasa mam, ku harap proyeknya benar-benar berhasil.”
“Semoga saja, ku harap begitu. Ayo kita berangkat”
Kami bergegas ke arah garasi mengambil mobil. Mobil ini menggunakan bahan bakar cahaya matahari. Karena panasnya matahari, akhirnya dimanfaatkan manusia sedemikian rupa. Mobil ini terbang sekitar 1 meter dari bumi ketika dikendarai.
Semua kendaraan yang membutuhkan bahan bakar minyak, kini menggunakan cahaya matahari sebagai bahan bakarnya. Jalan bawah tanah pun sudah resmi menjadi akses jalan yang memang mengurangi kemacetan. Jarak 20 km bisa ditempuh dengan waktu 10 menit. Tanpa macet dan memang teknologi yang kian gencar.
“Nanti mamah jemput lagi yah Din”
“Siap mah, asal jangan telat aja jemputnya hehe.”
Mamah mengedipkan mata, seketika itu mobilnya pun melaju kencang seperti kedipan matanya. Mamah memang wanita karier yang bekerja di perusahaan teknologi ternama, namun tidak kurang untuk memberi perhatian dan mengurusi keluarga.
Karena dosen tidak hadir, aku pun memilih ke perpustakaan kampus. Perpustakaan yang terdiri dari banyaknya PC dan ribuan file bacaan yang tersusun rapi dalam satu flashdisk yang sudah terdaftar ke dalam pencarian bacaan.
Di depan PC tempus pandang, aku memilah-milah bacaan apa yang harus aku pilih. Klik, aku pilih bacaan tentang sejarah kondisi bumi. Kemudian keluar hardfile kecil yang nantinya dimasukkan ke PC model tablet yang tembus pandang juga.
Mulai serius dengan bacaan sejarah indahnya bumi yang terdahulu. Bumi yang begitu hijau dulunya, jauh sangat berbeda dengan saat ini yang begiu panasnya bahkan menyebabkan kekeringan yang luar biasa. Tak sadar aku menitikkan air mata melihat perubahan yang begitu jauh dengan keadaan bumi dahulu.
“Hai Din, baca apaan sih sampe nangis gitu?” Clara yang tiba-tiba datang dan langsung duduk di sampingku.
“Ra, sini deh lihat. Ternyata bumi saat dulu itu seindah ini. Gue gak nyangka masih ada surga dunia pada saat itu. Sedangkan sekarang, semuanya musnah Ra. Kenapa ya Ra kira-kira Bumi jadi kaya gini?”
“Emm, gue jadi ikut penasaran Din apa yang terjadi kenapa bumi jadi kaya gini dan iya memang jauh berbeda sama bumi yang dulu.”
“Loe mau gak Ra bantuin gue nyari info asal-usul bumi jadi kaya gini?” tanyaku dengan muka serius.
“Hayu aja sih, gue mah kan selalu ada dipihak loe.”
Dan kami pun tertawa bersama sampai lupa dengan aturan di perpustakaan.
“Kalian berdua, silahkan keluar!” perintah petugas perpustakaan dengan tegasnya.
Yang begitu sangat memalukan yaitu pintu yang terbuka seakan menyambut kami untuk segera keluar. Dan tayangan cctv yang langsung terpajang di setiap papan tayangan cctv. Memang begitulah aturan di kampus ini.
Kami beralih tempat duduk dekat kantin. Dengan muka saling serius, kami melanjutkan bahasan yang di perpustakaan tadi.
“Sekarang kita lihat apa aja yang beda antara sekarang sama yang dulu.” Aku memulai dengan mengamati gambar-gambar dibacaan.
“Emm, eh lihat ini kampus kita deh kayanya. Dan ini lihat juga, ini kantin yang itu kan Din?” Clara menunjukkan kantin kampus yang ada di gambar dengan kantin yang ada di dekat tempat kami duduk sekarang.
“Wah loe, gak nyangka gue Ra. Tumben loe teliti banget haha. Nah, ini udah mempermudah kita banget nih buat nemuin perbedaannya.”
“Pakaian? Nah pakaian Din itu jadul banget yang digambar haha.”
“Yee model pakaian mah jelas beda lah Ra, tiap tahun juga udah beda. Apalagi ini udah puluhan tahun say.”
“PC? Nah teknologi Din. Kayanya memang berubah banget. Liat deh, mobil yang ada di gambar. Handphone, PC yang mereka gunain beda banget sama kita.”
“Teknologi? Emm ya bener juga Ra, sepertinya teknologi memang alasan utamanya. Teknologi di zaman kita udah keren banget dan yah memang jadul sih benda-benda teknologi mereka.”
“Lantas kenapa makin canggihnya teknologi, malah makin rusak ya bumi ini?” Clara yang mulai berpikir
“Okay yang kedua kita lihat perbedaan apalagi yang ada.” Aku memandangi sekitar dan ku temukan yang persis di tempat duduk ini. Di gambar ada sebuah pohon besar dekat tempat duduk ini, namun sekarang tidak ada.
“Tumbuhan Ra, iyah tumbuhan dulu masih lebat dan masih banyak hutan yang lebat juga. Dan sekarang sudah jarang kita temui tumbuhan tumbuh dengan lebatnya.”
“Gimana mau tumbuh Din, hutan-hutan juga udah dijadiin gedung-gedung besar seperti yang di seberang itu. Paling ada juga hutan kota, taman kota.”
Aku mencoba berpikir keras.
“Nah, berarti memang masalah utamanya adalah teknologi. Gedung-gedung besar itu juga kan memiliki teknologi yang luar biasa kan? Dan untuk pengembangan teknologi itu, mereka membangun gedung-gedung baru. Namun karena lahan sudah habis, mereka menggunakan hutan untuk membangunnya.”
“Ouh gitu, akhirnya hutan jadi gundul semua dan tentu jadi panas ya Din, karena tumbuh-tumbuhan tidak membantu penyerapan cahaya matahari dan tidak membantu kita untuk menyerap CO2 dari kita dan mengeluarkan O2 untuk kita serap. Benar gitu Din?”
“Yah benar, Emm ternyata ini alasannya.” Jawabku dengan nada serius dan mengangguk-anggukan kepala dengan pelan.
Kami hanya bisa tercengang dengan ini semua. Ada rasa penyesalan sebagai cucu yang sudah melakukan perubahan buruk untuk bumi ini. Kami pun menangis sambil memeluk saling memberi ketenangan.
Tiba-tiba wanita separuh baya datang memberhentikan tangisan, dan berniat untuk menjemputku.

Hangatnya Keluargaku

Hangatnya Keluargaku
#My Priceless Family Challenge
Hangatnya Keluargaku
Oleh : Nazwa Azzura
Keluarga.. Dari Sebuah keluarga aku berasal. Keluargaku memiliki seorang pemimpin atau seorang kepala dari sebuah keluarga sederhana ini. Seorang laki-laki tangguh dan gagah, dialah seorang ayah yang bernama Budi Lukman.
Seperti yang kalian tahu, nama Budi tidak asing bagi kalian bukan? Nama ini selalu menjadi contoh oleh seorang guru untuk mengajari murid-muridnya membaca. Namun nama ayahku ini bukan nama sebenarnya dulu saat lahir.
Ada sebuah cerita singkat asal-usul bagaimana nama ayahku bisa diganti dengan nama Budi. Dulu nama ayahku adalah Robi, dia sangatlah nakal dan hampir saja hanyut ketika main disungai yang deras ketika itu. Akhirnya nenek mengganti nama ayahku dengan nama Budi. Katanya sihb agar ayahku memiliki budi pekerti yang baik, tidak seperti saat ayahku bernama Robi.
Apakah sebuah nama mempengaruhi kepribadian kita? Wallahua’lam, mungkin karena terdapat sebuah do’a yang terdapat dalam sebuah nama. Okay kita lanjut..
Ayahku seorang lelaki yang tampan dan ekhem.. bisa dibilang ayahku itu awet muda loh. Hehe karena pernah mengunjungi pertemuan alumni smp ayahku. Ku lihat semua teman-temannya nampak sudah banyak yang beruban tidak seperti ayahku yang masih berambut hitam lebat.
Pernah suatu saat itu juga ada yang mengira aku ini istrinya ayah. Itu karena muka ayah yang awet muda atau muka ku yang terlalu tua ya?? Eitss,, tentu saja muka ayah yang awet muda karena saat itu aku masih duduk di bangku sma kelas 1. Mukaku juga masih imut-imut jadi bukan karena mukaku yang terlalu tua. Okay *maksa banget hehe.
Iyah karena memang ayahku berwajah imut memiliki mata yang sipit. Perawakannya yang sedang sedang saja tidak terlalu kurus dan tidak terlalu tinggi. Namun anehnya dengan postur yang tidak tinggi layaknya TNI, kadang saat ayah memakai celana bermotif seperti pakaian TNI memang dianggap pantas jika sebagai TNI. Entahlah apa benar dilihat hanya dari motif celananya saja?
Nah sedangkan pendamping hidup dan yang bersama-sama berjuang dengan ayah adalah seorang Ibu. Ibu adalah seorang wanita bagaikan malaikat tanpa sayap. Beliau selalu mengerti apa yang kita butuhkan.
Cerrewet, bawel Hhuh.. itulah seorang ibu. Bisa jadi teman, sahabat, kakak, tapi tidak bisa jadi adik yah. Hehehe. Beliau bernama Dewi Srimulyati. Ibu itu orangnya mudah sekali tertawa itupun juga menurun kepadaku yang tidak bisa menahan tawa.
Pernah loh suatu ketika ibu dan ayah bersekongjkol menjailiku. Mereka mengatakan bahwa aku bukan anak kandung mereka. Saat aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar, mudahnya mereka membohongiku. Kemudian aku bertanya kepada mereka.
“loh itu tidak benar kan? Mana buktinya kalau aku bukan anak kalian? Di akte kelahiranku saja terdapat nama kalian dan tertulis bahwa aku itu anak kandung kalian” rengekku meminta kepastian.
“itu mah kami rekayasa put, iya kan yah?” jawab ibu cengenges sambil nengok ayah.
Di siytu aku langsung menangis, namun mereka tertawa terbahak-bahak dan menjelaskan bahwa mereka baru saja menjahiliku. Dan akhirnya kami tertawa terbahak-bahak bersama. Uuhhh indahnya kebahagiaan keluarga ini ~.
Kemudian aku punya seorang adik laki-laki nih bernama Bayu Ikhwan Ramadhan. Dia lelaki yang tampan walaupun masih kecil sih. Tapi udah keliatan kok tampannya. Hhehe nama Bayu sendiri artinya angin. Memang ya nama itu bagaikan do’a juga. Dan adikku memang sepeerti angin, susah sekali ditangkap saat dikejar untuk mandi dan saat dia melakukan kesalahan yang tentunya akan dihukum.
Dengan kenakalannya, namun dia sendiri mempunyai keahlian loh di bagian elektro dan teknik-teknik gitu. Pernah tuh benerin seperda, radio yang udah lama belum dibenerin karena gak sempet. Mungkin sudah kebiasaannya melihat ayah saat utak-atik mesin-mesin gitu. Good job memang adikku yang tampan ini.
Sering aku bertengkar dengannya, sampai ujung-ujungnya kalah bareng, nangis bareng satu kamar, dan tau-tau ketawa bareng. Aiihh rindu dengan masa-masa itu. Namun sekarang sudah berbeda zamannya, adikku pesantren dan selalu menasehatiku terutama masalah menutup aurat. Thank you so much my brother.
Nah saat ini aku punya adik lagi tapi berbeda jenis kelamin dengan Bayu. Yaps dia seorang perempuan yang masih berumur 4 tahun. Kebayang kan masih imut-imutnya, bagaimana tingkah lucunya. Dia bernama Shafira Nazwa Nurjihan, namun biasa dipanggil Jihan.
Dek jihan ini super banget deh cengengnya, namun kalau ketawa itu mah ngakaknya kaya anak laki-laki. Gigi depannya yang ompong memperindah uniknya dia ketika tertawa. Cara bicaranya yang unik karena masih belum lancar, sehingga banyak dari kami yang tidak tahu saat dia berbicara apa. Namun kejadian seperti itu membuatnya nangis dan kesal sendiri. Aku dan ibu biasanya hanya tertawa melihat perilakunya yang unik itu.
Dia anak kecil yang paling sigap menurutku dibanding dengan aku dan Bayu. Dia juga tidak pemalu seperti kami. Suka sekali menyanyi dan anehnya hafal seluruh lagu yang di kaset dan menyanyikannya dengan urut.
“Wuuhh pandainya kau dek Jihan.” Salutku.
Dan yang terakhir adalah aku. Namaku Putri Anisyah Amatullah, aku sudah termasuk disetiap cerita mereka. Mereka adalah keluarga yang membuatku kuat, yang sudah menjadikan diriku seperti ini luar biasanya. Memang benar, keluarga adalah harta yang tak ternilai harganya.

Penyesalan Sangkuriang

Penyesalan Sangkuriang
#Remaking Folklore Challenge
Penyesalan Sangkuriang
Oleh : Nazwa Azzura

Pada suatu hari, ada sebuah kerajaan yang sangat kaya yang dipimpin oleh seorang Ratu bernama Dayang Sumbi. Beliau dikenal dengan Ratu yang sangat dermawan dan bijaksana.
Saat itu, Dayang Sumbi mengadakan pesta untuk merayakan hasil perkebunan miliknya. Ada seorang pemuda tampan menatapnya lekat seperti ada ketertarikan kepada Dayang Sumbi.
Namun ternyata ada niat tersendiri dengan pemuda yang bernama Tumang itu. Dia ingin menguasai kekayaan sang ratu.
Akhirnya Tumang melamar Dayang Sumbi. Dengan ketampanannya yang Tumang miliki, Dayang Sumbi luluh dan menerima lamarannya. Dayang Sumbi sangat bahagia saat pernikahannya karena dia tidak sendiri lagi dalam membangun kerajaannya. Tumang dilantik sebagai Raja oleh Dayang Sumbi.
Saaat Dayang Sumbi mengandung, Tumang sangat memperhatikan kehamilannya. Mereka sangat tidak sabar menyambut buah hati yang berjenis kelamin laki-laki ini. Berbagai keinginan Dayang Sumbi selalu dipenuhi oleh Tumahng seperti akan lupa dengan niat awalnya ingin menguasai kerajaan ini.
Masa kelahiran sang ratu. “Oee..oee..” terdengar suara isak tangisan bayi.
Mereka sangat terharu seketika melihagt bayi mereka yang sangat tampan. Kemudian mereka memberi nama Sangkuriang.
5 tahun kemudian, Ttumang memiliki proyek yaitu membuat kapal yang sangat besar untuk tujuannya ke negeri seberang. Warga-warganya saling bekerja sama mengerjakan proyek ini karena Tumang menjanjikan suatu hal yang indah kepada harta karun yang diceritakannnya.
Sangkuriang tengah bermain dengan teman-teman sebayanya di sekita kapal.
“Eh..eh.. pangeran Sangkuriang masih kecil saja sudah sangat tampan dan gagah ya” ucap salah seorang warga.
“Iya betul, bagaiamana jika sudah dewasa nanti ya, pasti akan menjadi raja yang sangat dermawan dan bijaksana seperti sang ratu. Tidak seperti sang raja yang saat ini memimpn kitA dengan janji-janji yang belum ia penuhi.”
“Semoga Sangkuriang cepat tumbuh dewasa dan menggantikan ayahnya itu ya.”
“Iya semoga saja ya”
Mendengar obrolan para warga, Tumang sangat geram dan mengepalkan tangannya. Saat Tumang ingin menghampiri Ppara warga, Ddayang Sumnbi menepuik bahunya.
“Mas , makan sudah siap dan suda dihidangkan, ayo mas kita pulang dan makan bersama-sama” ajak Dayang Sumbi.
“Baiklah, ayo.” Jawab Ttumang yang masih geram dengan apa yang barusan ia dengar.
Saat di meja makan berdsama istri dan anaknya, Tumang sedang makan sambil berfikir fdan memandangi anaknya.
“Jika Sangkuriang telah dewasa nanti, seluruh kekayaan pasti akan jatuh kepadanya. Apalagi ia sangat dikagumi warga. Ini tidak bisa dibiarkan!” gumamnya dalam hati sampai tak sengaja ia menggertakkan sendoknya ke piring yang ada dimejsa makan .
Seketika semua kaget dabn hening sejenak melihat Tumang yang bersikap aneh.
“Mas, ada apa? Apakah ada masalah?” tanya sang ratu yang nampak cemas.
“Ti..ti..ddak, tidak ada a[pa-apa. Mungkin aku sedikit lelah.” Kremudian Tumang pergi berlalu saja tanpa menghabiskan makanannyaa.
Dayang Ssumbi sangat kebingungan dengan tingkah suaminya. Dia tetap berada di meja makan bersama Sangkuriang.
Keesokan harinya, Tumang berniat untuk membuang Sangkuriang di tengah hutan. Namun, niatnya itu diketahui oleh Dayang Sumbi.
“Mas, kenapa kau tega melakukan ini semua? Apa salah anak kita hingga kau berani melakukan hal keji ini?” tanya Dayang Sumbi seraya menggendong Sangkuriang yang sedang menangis.
“Apa kau ingin tahu apa alasan aku bertindak seperti ini? Alasannya adalah anak itu. Sangjkuriang. Aku tidak ingin nantinya menguasai kekayaan dan kekuasaan kerajaan ini. Hanya aku yang berhak berkuasa selamanya.” Tegas Tumang dengan membawa kemarahannya.
“Kau sudah gila mas. Jadi selama ini kau menikahiku hanya ingin harta kekayaan dan kekuasaan kerajaan ini saja mas? Apa kau tidak mencintaiku?” Dayang Sumbi terisak menangis atas perbuatan suaminya.
“Cinta kau bilang? Tidak ada cinta bagiku. Yang aku inginkan hanya kekuasaan. Ha..ha..ha..”
“Kau benar-benar sudah gila mas. Prajurit.. bawa dia pergi sejauh-jauhnya kalau perlu buang saja ke dasar jurang hingga nyawanya tak terselamatkan.” Perintah Dayang Sumbi.
“Baik Ratu!” sergap prajurit menyeret Tumang yang memberontak.
15 tahun kemudian, kerajaan semakin tentram dan damai. Kejayaan kerajaan pun mulai terlihat sejak kerajaan dipimpin oleh Raja Sangkuriang. Dia telah dilantik oleh ibunya Dayang Sumbi sebagai Raja.
Sangkuriang memilliki ilmu yang sangat sakti. Dia sangat tampan dan juga gagah. Saat ini dia meneruskan kapal yang dulu ayahnya buat dan sekarang kapalnya hampir selesai dibangun.
Seiring berjalannya waktu, tiba-tiba muncul seseorang yang sangat tidak asik bagi kerajaan. Dia adalah Tumang sayah dari Sangkuriang. Rupanya sangat jauh berbeda. Dia nampak lebih kekar dan mempunyai kesaktian ilmu yang luar biasa.
Mendengar hal itu, Ratu meminta membawanya pergi secepatnya.
“Sangkuriang, ayo sebaiknya kita cepat pergi dari sini sebelum Ttumang ayahmu itu mengamuk dan menghancurkan kerajaan ini.”
“Baik bunda, akan ku siapkan segala halnya.”
Kemudian Dayang Sumbi dan Sangkuriang yang dijaga ketat oleh Pprajuritnya mereka menuju ke arah pelabuhan yang terdapat kapal besar yang teruskan oleh Sabngkuriang d.
Saat sampaui di pelabuhan, ternyata Tumang lebih dulu berada di atas kapal. Dia siap menghadang mereka yang hendak melarikan diri dari kejarannya.
“Mau kemana kalian? Ha..ha..ha.. jika kalian ingin pergi, langkahi dulu mayatku.” Teriaknya di atas kapal.
“Ternyata kau masih hidup Tumang, tolong menyingkirlah dari kami!” jawab Dayang Sumbi
“Hai istriku, nampaknya kau masih terlihat cantik ya. Hai jagoanku, bagaimana rasanya telah menguasai kerajaan? Nikmat bukan? Namun kau tidak akan selamanya menguasai kerajaan. Karena aku yang akan menguasai kerajaan selama-lamanya!!” ungkapnya dengan rasa bangga.
“hai kau, ayah macam apa kau ini?! Kau adalah manusia yang sangat bejat. Dulu kau hampir membuangku padahal aku adalah darah dagingmu sendiri. Demi kekuasaan kau tega melakukannya! Kemari kau, akan ku kirim kau ke neraka!!”
Kemudian mereka berkelahi hebat dengan adu kekuatan ilmu kesaktiannya. Namun ternyata, kesaktian Tumang tidak lebih hebat dibanding anaknya Sangkuriang. Sangkuriang mengarah ke arah kapal besar dan berniat mengumpulkan seluruh tenanganya untuk melemparjkan kapal tersebut ke arah Tumang yang sedang sekarat.
Dayang Sumbi membayangkan masa lalunya bersama Tumang. kenangan itu membuatnya berlari dan berusaha melindungi Tumang dari serangan Sangkuriang. Tapi apaa daya, Sangkuriang telah melemparkan kapal itu ke arah mereka. Mereka telah terkubur oleh kapal yang tertelungkup yang dilemparkan Sangkuriang. Sangkuriang tidak menyangka ibunda tercintanya ikut terkubur bersama ayahnya yang dia benci. Dia sangat menyesali apa yang telah dia perbuat.

Rencananya atau Rencana-Nya?



#Wow Plot Challenge
Rencananya atau Rencana-Nya?
Oleh : Nazwa Azzura
Mentari pagi perlahan muncul untuk menerangi indahnya bumi. Kicauan burung-burung ikut menyambut cerahnya pagi hari ini. Telah ku dapati banyak sekali orang-orang berdatangan ke rumah. Menggunakan pakaian resmi bercorak batik dan berpenampilan anggun. Dari sisi jendela kamar, aku melihat beberapa orang-orang penting juga berdatangan.
Tok..tok..tokk..
“Sya.. bagaimana sudah siap?” tanya seorang separuh baya yang sudah berdandan cantik dan bernampilan sangat anggun.
“Belum mah, bentar lagi. Tinggal nyari bross bunga-bunga yang minggu lalu beli bareng mamah.” Sambil nyari-nyari ke dalam almari.
“Kamu ya.. kenapa gak dari semalem disiapin sih Sya. Ya udah dipercepat yah. Tamu udah banyak dan sebentar lagi calon suami kamu datang.”
“iyah mah iyah.”
Mamah pergi dan menutup pintu kamar dengan segera.
“Hhuh, benarkah aku akan menikah dengan orang tidak aku kenal sebelumnya? Melihatnya pun tak pernah. Ya Allah ku serahkan semuanya kepada-Mu.” Gumamku sambil terus mencari-cari bross dalam almari yang mungkin terselip.
Brruukk...
Terlihat ada sesuatu yang jatuh dari dalam almari. Dengan segera aku mengambilnya.
“Book Diary?” gumamku.
Buku kecil bersampul cokelat kusam dan nampaknya memang sudah sangat lama. Buku yang berisikan tulisan-tulisan seperti ceker ayam pada halaman pertama, seperti kata beberapa orang yang mengucapkannya pada tulisan yang jelek susah dibaca.
Ku buka lembar pertama bertuliskan tanggal 12 Juli 2006 di pojok kanan atas. Aku mulai membaca dengan serius.
 “Hey kamu.” Seseorang menunjuk ke arahku dengan muka kesombongan sebagai senior.
“A..a..aku?” Dengan gugup aku menjawab.
“Iyah kamu. Cewek culun. Kemari!”
Perlahan aku mendekatinya dengan rasa takut. Takut jika disuruh melakukan hal yang dia minta. Mentang-mentang dia senior bisa seenaknya memerintah juniornya saat ospek. Ini sangat tidak adil bagiku.
“Kenapa kamu? Apa yang sedang kamu pikirkan?”
“Aku memikirkan ketidakadilan yang ada di sekolah ini.”
“Hhaha keadilan? Coba kamu jelajahi sekolah-sekolah seluruh pelosok Indonesia kalau bisa, pasti kamu menemukan saat-saat ospek seperti ini!”
Aku hanya terdiam dengan tubuh gemetaran karena bentakan suara kerasnya. Dengan keheningan sejenak, seseorang yang sepertinya teman senior itu menghampiri.
“Gio. Eh ada yang mau aku bicarain. Sini deh bentar.”
Mereka terlihat membicarakan hal penting suatu konsep dengan cara berbisik-bisik dan lumayan jauh dari jarakku berdiri.
“Ouh. Senior galak itu namanya Gio.” Gumamku.
Terlihat mereka sudah selesai bercakap. Aku segera mengambil posisi setegak mungkin agar tidak mendapatkan hukuman yang lebih berat lagi.
“Hey kamu. Sekarang kamu cari 10 macam bunga yang berbeda-beda dan hanya dilingkungan sekolah ini. waktunya sampai 1 jam sebelum adzan dhuhur. Paham?!”
“I..i...iya kak.”
Sekarang waktu menunjukkan pukul 10.45. Aku langsung buru-buru mencari 10 macam bunga yang diperintahnya. Kini keberuntungan memihakku. Dengan cepat aku berhasil mendapatkan 10 macam bunga yang berbeda.
Aku langsung berlari menemui Kak Gio. Namun dia menghilang entah kemana. Tapi ternyata ada teman Kak Gio yang tadi bercakap dengannya. Dengan segera aku menghampirinya.
“Assalamualaikum Kak, ini saya sudah mendapatkan 10 bunga yang berbeda.” Dengan nafas yang terengah-engah aku berbicara kepadanya.
“Oh iyah bagus. Sekarang kasih ke kaka yang memakai baju kokoh putih dengan sarung abu-abu di dalam musholah.”
“Hhuh siap kak!”
Tiba di musholah, mataku dengan giat mencari-cari seseorang yang dimaksud kak Dani itu. Selintas aku melihat seseorang dengan ciri-ciri itu sedang memasukkan uang ke dalam kotak amal. Kemudian mengarah ke tempat imam, mengambil mikrophone. Aku pandangi dengan serius apa yang akan dilakukannya dan apakah dia orang yang dimaksud Kak Dani?
Allahu Akbar.. Allahu Akbar...
“Adzan?” gumamku dengan pelan.
Aku tercengang, terpesona ahh.. entahlah apa sebutan saat apa yang sedang ku rasakan ini. mendengar lantunan takbirnya membuatku lupa akan tugasku dan langsung mengambil air wudhu untuk menyegerakan shalat.
Saat shalat selesai, aku baru teringat akan tugas bunga ini. Mata ini mencari-cari seseorang itu dan terlihat mau keluar dari musholah. Dengan buru-buru aku mengejarnya.
“Kak.. kak.. tunggu.!” Aku memberhentikannya setengah berteriak.
Kemudian orang itu balik badan dan...
“Hhah K..Kak Gio? Lhoh jadi yang dari tadi aku perhatiin sampai adzan tadi itu dia? Oh My God..”
“Iya. Ada apa? Emm, tunggu dulu.” Dia berpikir seperti sedang mengingat-ngingat.
“Oh iyah.. kamu anak yang tadi saya panggil culun tadi ya? Maaf yah atas omongan saya yang menyinggung. Gimana udah dapet semua bungannya?”
Aneh memang, ucapannya sekarang berubah jadi lembut dan sopan. Tidak seperti saat dilapangan tadi saat dia memakai seragam. Suaranya yang keras membentak-bentak. Wajah tampan dan senyumannya kini membuatku makin terpesona dengannya. Ohh Kak Gio..
Cerita ini membuatku tertawa terbahak-bahak dan tidak menyangka. Kemudian aku membuka lembar buku diary selanjutnya.
Kini aku sudah duduk dibangku SMA dan satu sekolah dengan Kak Gio. Masa ospek selalu mengawali di area pendidikan formal. Aku kembali menuruti perintah senior yang kini makin semena-mena perintahnya. Lebih menantang fisik juga mental pada siswa-siswi baru.
“Salah satu diantara kalian harus ada yang mengambil sepatu itu yang berada di atas pohon. Kemudian memasangkannya kepada kedua kaki saya! Jika tidak ada yang berani, kalian semua harus berlari 10 kali mengitari lapangan ini, 20 kali sit up, 30 kali push. Ini juga berlaku untuk kalian para siswi! Paham kalian?! Sekarang lakukan, cepat!!”
Semua terdiam dengan rasa takut dan keringat dingin yang membasahi. Aku yang sudah muak dengan semua ini. Aku maju dengan rasa emosi yang tinggi.
“Maaf, saya sangat keberatan dengan apa yang kakak perintahkan. Yang pertama, Ini tidak adil jika perempuan mendapatkan hukuman yang sama seperti laki-laki. Dan yang kedua, kakak kenapa tega-teganya memberikan perintah yang merendahkan harga diri kami dengan memasangkan sepatu kepada kakak?”
“Hahaha kamu berani juga ya bicara seperti itu kepada saya. Saya itu senior kamu!”
“Lalu kenapa? Apa hebatnya senior? Banyak juga kemampuan senior yang jauh lebih rendah dibandingkan juniornya!” tak sadar ternyata aku meluapkan emosi dengan bentakan keras yang mengheningkan keadaan.
“Kamu benar-benar membuat saya kesal! Sekarang kamu harus ambil sepatu itu di atas pohon dan pasangkan sepatu itu pada kedua kaki saya!!”
“Saya tidak sudi melakukan hal seperti itu, kecuali pada kedua orang tuaku!!”
“Ohh tidak sudi ya?? Sebagai gantinya semua siswa-siswi di sini harus mendapatkan hukuman yang sudah saya sebutkan tadi.”
Semua merasa ketakutan dan terlihat sedih. Tak kuasa aku melihatnya, akhirnya aku nekat memanjat pohon dan mengambil sepasang sepatu itu.  
Dengan raut muka kesal, aku berlutut dan memasangkan sepatu ini kepadanya. Namun aksiku dihentikan oleh tangan seseorang yang memegang tanganku dan aku ditarik ke arahnya.
“Sham.. loe kok keterlaluan banget sih hah?”
“Gue cuma jalanin tugas bro”
“Tapi gak gini caranya. Dia cewek gue, jangan pernah loe ganggu dia lagi.”
“Pacar? Kapan kita pacaran? Ouh mungkin Cuma aktingnya untuk menyelamatkanku” gumamku.
Kemudian Kak Gio membawaku pergi jauh dan kami bercakap-cakap.
“Hhaha jadi dia itu sebelumnya pernah dijailin Kak Gio pas ospek? Pantesan dia kelihatannya takut banget sama Kak Gio.” Tawa kami melupakan kejadian tadi.
“Hehe iya sya. Oh iya ada yang mau aku omongin ke kamu Farisya.”
“Iyah Kak ada apa?”
“Aku mau pindah ke Singapura, mungkin sampai aku lulus wisuda juga.”
“Hah? Terus kapan berangkat?” mendadak aku kaget mendengarnya.
“Besok Sya.”
“Secapat itu Kak Gio ninggalin aku?” tak sadar aku meneteskan air mata dan dengan segera aku menghapusnya dan menahan air mata ini.
“Kamu jaga diri baik-baik di sini. Oh iya kamu ada kertas atau buku gak?”
“Ada ini.”
Aku memberikan buku diary ku. Untungnya dia langsung membuka halaman agak terakhir dan tidak melihat isi diary ku yang penuh cerita tentangnya.
Dia menulis sesuatu di buku itu.
25 JUNI 2016
“Ini apa kak?”
“Ini perkiraan kita akan ketemu lagi dan aku akan memberi kejutan untukmu nanti.”
“7 tahun lagi? Hhuh itu bukan waktu yang singkat Kak.”
“Semangat J, kamu pasti bisa.”
Beberapa bulan kemudian, namun tidak ada kabar dari  Kak Gio. Dia menghilang tanpa memberiku informasi apapun.
Air mata mulai membasahi mukaku. Kini halaman terakhir buku diary ku basah dengan tetasan-tetesan air mata. Aku membaca tulisan tangan Kak Gio dengan tanggal 25 Juni 2016. Aku melihat kalender untuk memastikan tanggal berapa hari ini.
Ternyata sekarang adalah tanggal 25 Juni 2016 persis seperti yang ada di buku diary.
“Hhuh, mana janjimu Kak? Katanya kamu akan menemuiku dan memberiku kejutan? Ini sudah tiba waktunya, tetapi kenapa kamu belum juga menemuiku? Bahkan dihari pernikahanku ini kamu tidak hadir.”
Aku bercermin dan mencoba menghilangkan bekas tangisanku. Kemudian tiba-tiba..
“Farisya, ayo cepat keluar. Calon suamimu sudah datang. Akad nikah akan segera dimulai.”
“Iyah mah.” Dengan muka lemas aku keluar.
Seketika aku langsung duduk di depan penghulu. Suara dag dig dug yang kini ada di dalam dadaku.
“Apakah sudah siap? Mempelai putranya mana?” penghulu mulai bertanya.
Kemudian datang sosok pangeran tampan menggunakan jas hitam dan menggunakan peci. Terlihat sangat cool dan mukanya yang bersinar.
“Assalamualaikum. Saya mempelai putranya pak. Bisa kita segera mulai.” Dengan mantapnya ia menjawab.
Aku sangat kaget, sekaget-kagetnya. Dan masih bingung dengan semua ini. Rencana indah apakah ini?
Acara akad nikah berlangsung dengan lancar. Kini aku dan Kak Gio resmi menjadi Suami Istri. Aku menangis bahagia mencium tangannya dan langsung memeluknya.
Rasa rindu selama 7 tahun lamanya aku menunggu. Ternyata ini sebuah kejutan yang dia janjikan dahulu. Rasa cinta yang dulu aku tutupi, aku berusaha untuk menyembunyikannya. Kini tidak ada rahasia lagi diantara kita, yang ternyata Kak Gio juga memiliki rasa yang sama sejak dulu dan menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan rasa cintanya kepadaku.