Selasa, 11 Juni 2019

Rainbow of a Dream

Tuk ... tuk ... tuk ...

Hentakan sepasang kaki terasa amat nyaring bunyinya. Entah aku berada di tempat mana sekarang. Terasa sunyi, sepi dan tak ada seorang pun yang mampu menyelimuti rasa ketakutanku. Pohon-pohon besar amat sombong dengan gagahnya berdiri tegak tanpa mau menyambut kedatanganku. Dengan rasa penasaran, aku terus mencari surga tersembunyi seperti yang ada dalam mimpiku.

Berjalan perlahan dengan dinginnya di sekitar hutan membuatku hampir putus asa. Namun tiba-tiba datang sekelompok burung yang terlihat riang. Mereka mengeluarkan nyanyian-nyanyian indah seakan menyambut kedatanganku. Ahh terima kasih kawan, ini sedikit membuatku terhibur.  

Entah mengapa burung-burung semakin banyak berdatangan. Namun burung-burung itu memiliki warna-warna yang sangat indah. Aku baru tersadar akan indahnya makhluk-makhluk yang Tuhan ciptakan. Ingin sekali aku membawa satu untuk adik kecilku di kota. Warna-warna yang mereka miliki sama-sama indahnya sehingga rasa kebingungan datang bersama dengan bisikan-bisikan halus yang berdatangan untuk membantuku memilih burung mana yang akan aku pilih.

“Ahh ... sepertinya aku memilihmu anak burung yang manis.” Ungkapku di hadapan semua burung-burung yang sedang sibuk bernyanyi.

Nampaknya tidak akan ada yang sadar jika aku mengambil salah satu anak mereka. Perlahan aku mendekat dan terus mendekat. Saat aku dapati burung tersebut dan memegang sayapnya yang berwarna-warni, tiba-tiba burung kecil itu seperti berteriak. Sehingga membuat burung-burung lainnya berhenti menyanyi dan memandang ke arahku.

“Oh my God. Please ... calm. Saya tidak akan menyakiti burung ini. Saya hanya ingin membawanya ke tempat lain.” Perlahan aku mundur dan mencari cara agar bisa kabur.

Tanpa pikir panjang, aku lemparkan anak burung itu dan aku langsung berlari sangat kencang. Aku berharap lebih dulu berlari karena mereka pasti akan terlebih dahulu mengkhawatirkan anak burung itu. Namun tak kusangka ribuan burung sudah nampak tepat berada di belakangku.

Langkah kaki ini terasa semakin sakit dan lemas. Bukan hanya itu, aku merasa pusing kepala dan pandangan yang juga sedikit kabur. Namun aku tidak peduli dan yang aku pikirkan sekarang adalah berusaha agar bisa berhasil lolos dari ribuan burung itu yang seakan hendak memangsaku.

Pandanganku semakin lama semakin tidak terlihat jelas. Pusing di kepala juga semakin membara dan tiba-tiba ...

“A ... aku ada dimana ini?”
“Kau sedang berada di tempat yang sudah sangat dekat dengan arah tujuanmu, nak.” Suara gema tiba-tiba hadir.
“Ah ... kepalaku masih terasa pusing.”
“Bersabarlah ... sebentar lagi kau akan sampai di tempat yang kamu tuju. Setelah itu terjunlah ke dalam air itu untuk menyembuhkan kutukan yang berada di tubuhmu.”
“Kutukan? Kutukan apa? Lho kek ... kakek???”

Tiba-tiba kakek tua itu menghilang dengan cepatnya. Dan aku langsung tersadar dalam mimpiku.

“Hahh ... oh my God ... sedang berada di mana aku sekarang?”
Aku sangat bingung sekarang. Tiba-tiba aku sudah duduk menunggangi kuda putih yang sedang berlari cepat. Tanpa aku sadari ternyata kulit pada seluruh tubuhku berwarna-warni.

“Atau mungkin gara-gara aku memegang burung itu? Ah entahlah ... tapi ini mau dibawa kemana aku. Heyyy ... kuda jawab pertanyaanku!!!” kuda itu terus berlari kencang.

Kemudian tiba-tiba kuda yang aku tunggangi berhenti. Aku segera membuka mata lebar-lebar setelah apa yang sedang aku dapati saat ini.

“Oooouuhh ... my God ... amazing ... ini benar-benar luar biasa.”

Gemericik air terjun yang jernih dan ikan-ikan yang sangat jelas sekali nampak di sungai. Bunga-bunga di permukaan menambah keindahan. Ditambah lagi cahaya matahari yang membuat pemandangan ini begitu menyilaukan.

“Ini benar-benar Wow. Oh ya hampir saja aku lupa. Aku harus cepat berendam sesuai saran kakek.”

Kemudian aku berendam dan menggosok-gosokan kulitku yang berwarna-warni. Tak kusangka percobaan ini mengeluarkan warna-warni seperti pelangi di sekitar air terjun. Aku sangat takjub dengan pemandangan yang sangat indah ini.

“Mungkin akan aku namai temuanku ini Air Terjun Pelangi. Yah ... Air Terjun Pelangi.” Pikirku.
Aku sangat menikmati sejuknya air sungai ini. Namun tiba-tiba ada yang menarik kakiku sampai aku hampir tenggelam.

“To ... tolong ...”

Byuuurr ....

“Hahhh ... kakek? Kenapa nyiram aku kek?”
“Ayoo bangun ... sudah waktunya kita ke bandara.”
“Huft ... cuma mimpi.”
“Apa kamu bilang?”
“Hehe gak kek.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar